Baru-baru ini topik yang sedang hangat dibicarakan di lingkungan sekitar (kost ku terutama hehe) adalah jodoh, cinta dan sejenisnya yang menyangkut hal itu. Tak asing sih, lagi pula toh sudah waktunya menikah (hehe). Ibuk juga tak henti-hentinya bertanya tentang siapa sih yang dekat denganku saat ini. Perlu diketahui, bahwa aku sendiri sudah merasa mendekati khatam menelaah cinta dan islam. Apalagi, aku sendiri belajar di sebuah universitas islam dimana tak henti-hentinya aku mendapatkan siraman rohani penyegar qolbu. Pernah suatu hari aku mendengarkan curahan hati dari seorang teman. Dari sebelumnya aku belum mengenal cinta dan islam dan setelah aku mengenal 2 kata itu, serasa berbeda ketika aku harus dituntut menjadi pendengar dan pemberi nasehat yang baik.Dia bercerita dari A sampai Z dimana penangkapanku tentang curahan hatinya adalah, ia mengartikan cinta terlalu sempit. "Aku pokoknya cinta sama dia titik. Aku gak mau kalo aku gak sama dia" katanya sih begitu. Untung saja temanku tak mengakhiri hidupnya dengan gantung diri karena putus cinta gak sama si dia. Berbagai cara, aku berusaha menenangkan hatinya. Entah kata-kata yang dikutip dari buku lah, dari dalil lah semua ku keluarkan. Aku mulai memainkan logikaku. Tak ada definisi cinta yang disahkan kecuali definisi cinta lewat kamus bahasa indonesia (hehe). Semua memiliki pandangan tersendiri tentang apa itu cinta dan bagaimana menyikapinya. Ada satu definisi yang masih terngiang sampai sekarang, kutipan dari buku Salim A. Fillah yang diambil dari seorang ulama (kebetulan aku lupa namanya hehe) bahwa "cinta akan lenyap, dengan lenyapnya sebab..." yang berarti sebab yang sembarangan akan menimbulkan cinta yang sembarangan juga. Aku mulai mengaitkannya dengan ketetapan Allah yang tak dapat diubah yaitu jodoh, kematian. Hari kematian seseorang memang tak bisa dirubah oleh siapapun kecuali oleh Yang Maha Agung. Tetapi bagaimana cara seseorang mati dapat diubah dengan kekuatan iman. Dari itulah aku menganalogikan jodoh. Memang jodoh sudah ditetapkan di tanganNya. Tapi bagaimana cara kita mengambilnya dariNya dengan sebab yang berbeda pula. Yah, Sebab adalah nyawa cinta. Dengan sebab yang luar biasa akan menimbulkan cinta yang luar biasa pula. Subhanallah :)
Nah, ini topik hangat yang tak boleh tersingkir untuk dibahas. Mengapa perempuan harus bekerja ketika kelak ia menikah? Beberapa calon suami atau suami itu sendiri banyak yang menginginkan istrinya tetap di rumah dan memegang kendali penuh sebagai sekretaris sekaligus bendahara rumah tangga (ibu rumah tangga). Kesepakatan ini diharamkan ketika hanya bertujuan untuk tujuan pribadi dan mendzolimi yang lain (eh, kok langsung menghakimi "haram" emang aku siapah?? T.T) ketika memang suatu kesepakatan tidak menjadikan yang lain baik atau salah satu dirugikan atas kesepakatan tersebut maka kesepakatan itu sangat mendzolimi hehe..Tapi tidak sepenuhnya seperti itu. Banyak laki-laki yang masih berpendapat seperti itu karena ingin melindungi sang istri dari fitnah luar, takut istrinya kecapekan kalo harus bekerja luar dan dalam atau takut istrinya tidak sepenuhnya memenuhi kewajiban pelayanan terbaik di rumah. Saya pribadi adalah salah satu yang ingin bekerja saja ketika menikah. Beri...
Komentar
Posting Komentar