Langsung ke konten utama

Holding on and letting go

"Holding on and letting go.."

Sudah pasti bukan aku saja yang penasaran akan kejadian 1 detik kemudian, bahkan akupun tak yakin pada setiap abjad yang terangkai menjadi kata kemudian menjadi sebuah kalimat yang bisa jadi bermakna atau tidak sama sekali bagimu. Kamu tau, bagaimana air mengalir tanpa memperhatikan tempo dan cenderung masa bodoh. Dia menjadi dirinya seperti dirinya sendiri. Aku mendengar suara hujan diluar begitu menenangkan, tapi dibalik ketenangan yang kurasakan adalah kerisauan dan kekacauan yang luar biasa di bumi bagian lain. Selain kuanalogikan sebagai makna konotasinya, akupun juga memberi makna denotasi sebagai wujud keberdukaanku pada manusia-manusia yang sedang terkena bencana disana. Alam sedang berproses, ia sedang dalam titik emosi. Aku sering berpikir, kadang air bisa sebaik atau sekejam waktu. 

Beberapa jam kedepan, Desember akan menyambut hari-harimu. Pasti bagimu biasa saja, tapi tidak bagiku. Menyambut Desember seperti berdiri dalam sebuah panggung dengan penonton yang bejibun dan ada sebagian yang mengagumimu tentu sebagiannya lagi adalah penonton yang benar-benar sangat membencimu. Aku harap kamu akan membayangkannya seperti siap tidak siap dan harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Aku termasuk orang gugup ketika disanjung sama gugupnya ketika sedang dihujat, tapi masalah hujatan mungkin gugupnya akan terasa berbeda sedikit dengan nuansa agak panas di dalam tetapi semuanya bahkan tanganmu akan terasa dingin. Kamu pasti akan menganggapnya lebay, tapi terserah kamu. Aku tidak memaksamu untuk sepakat denganku, tapi seperti itulah yang kurasakan. Waktu berjalan seperti air yang mengalir. Kamu mungkin akan merasakan ketenangan air dan menikmati suara hujan diluar dengan perasaan yang syahdu, tapi menyambut Desemberku ini, aku seperti menciptakan bencanaku sendiri.

Aku bertaruh, tidak akan ada yang memperhatikanku dengan menulis A kemudian berganti B atau yang lain dan aku tak terlalu memikirkannya karena mungkin aku akan mengalami schizophrenia jika terlalu jauh memikirkan itu. Hidup dalam masa bodoh dan hanya peduli dengan diriku sendiri adalah tameng bahwa pada kenyataannya aku harus bisa mengurus diriku dulu sebelum berani memutuskan untuk hidup dengan orang lain. Kadang kita harus berani memilih dan menolak sesuatu yang menurut kita tidak sesuai dengan hati dan akal sehat kita. Demi apapun, aku sangat berat hati dengan kata "menolak" ini. Mungkin mood ku saat ini tidak terlalu baik hingga aku terlihat sangat "keakuan" pada paragraf ini. Bagaimanapun aku tak mau termakan waktu yang semakin buas dan terlihat seperti buaya yang tidak makan selama 3 minggu. Mengertilah..

Terkadang aku berpikir "mengapa aku sangat keakuan?" bahwa seringkali aku memilih menulis untuk diriku sendiri atau jika tulisan itu hampir berupa kritikan, aku akan sangat berhati-hati dan ujung-ujungnya akan kembali padaku sendiri. Pada intinya, aku belum bisa membuat suatu opini dan kritikan untuk lingkungan sekitarku. Ini masalah tidak bisa atau tidak tega dengan persentase mungkin sama-sama 50%.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESA ITU DAN DIRINYA :)

Ada apa dengan diriku saat ini?? terlalu membuang waktu dengan sia-sia akhir-akhir ini. Mungkin terpengaruh buku Salim A Fillah, tapi bukannya malah tergerak untuk semangat malah diliputi rasa galau.  Sesosok makhluk yang tak asing kembali mengarungi pikiranku. Ah, memikirkannya membuat pikiranku tergerak untuk merindukan desa itu saat ini. Kembali aku memikirkan desa yang telah aku sambangi kira-kira sebulan yang lalu. Terasa sekali sejuknya sesejuk aku memikirkannya. Memang desa itu dengan dirinya tak asing ibarat duri dan tubuh ikan. Aura desa itu benar tak asing, terasa tenang ketika aku memikirkannya lagi. Pernah aku berpikir untuk selalu menyambangi desa itu nantinya. Rindu tersendiri tepatnya. Hirupan embun pagi dan kedaannya yang asri. Memang aku sangat menikmati disana. Walaupun diselimuti galau tingkat dewa. Bayangan sepasang suami istri yang mengolah sawah disana. Di desa itu tepatnya, di depan rumahnya.  Konyol sekali diriku, aku tak pernah bercita-cita sebagai ...

the miracle of love (definition part)

Baru-baru ini topik yang sedang hangat dibicarakan di lingkungan sekitar (kost ku terutama hehe) adalah jodoh, cinta dan sejenisnya yang menyangkut hal itu. Tak asing sih, lagi pula toh sudah waktunya menikah (hehe). Ibuk juga tak henti-hentinya bertanya tentang siapa sih yang dekat denganku saat ini. Perlu diketahui, bahwa aku sendiri sudah merasa mendekati khatam menelaah cinta dan islam. Apalagi, aku sendiri belajar di sebuah universitas islam dimana tak henti-hentinya aku mendapatkan siraman rohani penyegar qolbu. Pernah suatu hari aku mendengarkan curahan hati dari seorang teman. Dari sebelumnya aku belum mengenal cinta dan islam dan setelah aku mengenal 2 kata itu, serasa berbeda ketika aku harus dituntut menjadi pendengar dan pemberi nasehat yang baik.Dia bercerita dari A sampai Z dimana penangkapanku tentang curahan hatinya adalah, ia mengartikan cinta terlalu sempit. "Aku pokoknya cinta sama dia titik. Aku gak mau kalo aku gak sama dia" katanya sih begitu. Untung saj...