Langsung ke konten utama

my right, my choise

Aku ingat beberapa hari yang lalu, aku duduk bersanding dengan ibukku menikmati suara kereta di stasiun purwosari. Ada sesuatu yang beda. Aku tertegun mengamati wajah cantiknya yang semakin tua. Tapi aku sadar, ia adalah seorang sahabat yang paling mengerti tentang diriku. Aku mencuri pandang, aku awasi agar ibukku tak tau bahwa aku sedang mengamati dirinya. Ia tetap saja acuh sambil menanti kereta yang akan tiba satu jam lagi. Berbagai obrolan santai, aku nikmati dengannya. Hingga suatu waktu, ia melihat seorang wanita yang cantik sedang berjalan dengan anggunnya melewati obrolan kami. Berkerudung, tapi sayang baju yang dikenakan menampakkan body nya yang aku akui lebih bagus dari body ku. Mengenakan high heels, dilengkapi dengan celana pencil press body. Yah, bisa dikatakan muslimah gaul gituh.. Ia berkata "nduk, liat tu..kakaknya cantik kan..pake busana muslimnya juga gaul.." Akupun beralih pandangan dari arah rel kereta  melihat wanita itu "kakaknya cantik sih buk, tapi masak ibuk tega aku harus berpakaian kayak bandeng presto kayak gitu.." Akupun melanjutkan "buk, aku disini hidup sendiri. Tak ada yang langsung melindungiku kecuali diriku sendiri. Aku nyaman kok menggunakan jilbab yang lebih mentaati syar'i daripada berjilbab tapi telanjang seperti kakak itu. Jilbab ini yang akan melindungiku dari kejahatan dunia dan siksaan neraka kelak :). InsyaAllah. Jilbab ini juga telah menuntunku menjadi yang terbaik di mata ibuk, terutama di Mata Allah. Aku bisa mengontrol diriku dengan bercermin pada jilbab yang aku kenakan. Orang-orang lebih menghormatiku, dan lebih menempatkanku menjadi wanita yang baik." Ibukku mengangguk-angguk tanda bahwa ia mulai mengerti tentang apa yang selama ini sudah terpendam di dalam hatiku dan belum bisa aku ungkapkan kepadanya. Saat itu, memang sangat lega yang kurasakan. Suara hiruk pikuk stasiun menghiasi suasana obrolan kami. Kami saling terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkan ibukku saat itu. Aku mencoba membaca matanya yang coklat, tapi tetap saja. Pikirannya tak bisa kutembus. Mata yang sayu itu seolah-olah ingin mengungkapkan sesuatu yang ada di dalam pikiran dan hatinya. Tiba-tiba ia meneruskan obrolan "nduk, ibuk sebenarnya takut, dengan jilbab besar yang kau kenakan itu, kau menjadi sombong" Aku tertegun, tak pernah aku mengira ibukku dapat mengatakan hal yang bijak seperti itu. Aku merasa, aku tak pernah introspeksi diri dengan jilbab yang aku pakai ini. Aku tak merasakan kesombongan yang mungkin sering aku lakukan pada setiap orang. Kata-kata itu selalu terngiang di dalam pikiran dan merasuk ke hati. Satu yang terlewatkan adalah, jilbabku membawaku ke dalam suatu kerendahan hati. Aku melamun sejenak hingga aku tersadar dengan bunyi sirine kereta api. "Nduk, kereta ibuk sudah datang..sudah sore, pulanglah sekarang.." Aku lihat lagi wajahnya yang sayu dengan jelas. Aku puaskan untuk melihat wajahnya saat itu hingga ia menaiki tangga kereta menuju gerbong 1. Dalam hati aku berkata "Terima kasih telah melahirkanku buk, aku janji aku tak akan menangis disini. Tak usah mengkhawatirkanku, iman dan jilbabku inilah yang akan melindungiku disini. Di perantauan ini, tempat aku menimba ilmu." Sirine kereta semakin keras menandakan kereta akan segera berangkat dan segera kereta menjauh dari kedipan mataku kemudian menghilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan Harus Bekerja (?)

Nah, ini topik hangat yang tak boleh tersingkir untuk dibahas. Mengapa perempuan harus bekerja ketika kelak ia menikah? Beberapa calon suami atau suami itu sendiri banyak yang menginginkan istrinya tetap di rumah dan memegang kendali penuh sebagai sekretaris sekaligus bendahara rumah tangga (ibu rumah tangga). Kesepakatan ini diharamkan ketika hanya bertujuan untuk tujuan pribadi dan mendzolimi yang lain (eh, kok langsung menghakimi "haram" emang aku siapah?? T.T) ketika memang suatu kesepakatan tidak menjadikan yang lain baik atau salah satu dirugikan atas kesepakatan tersebut maka kesepakatan itu sangat mendzolimi hehe..Tapi tidak sepenuhnya seperti itu. Banyak laki-laki yang masih berpendapat seperti itu karena ingin melindungi sang istri dari fitnah luar, takut istrinya kecapekan kalo harus bekerja luar dan dalam atau takut istrinya tidak sepenuhnya memenuhi kewajiban pelayanan terbaik di rumah. Saya pribadi adalah salah satu yang ingin bekerja saja ketika menikah. Beri...

Estetika Tuhan

"Ayo kanca, pada anyengkuyung program kang tinata nuju karta raharja..kanthi bareng maju HOLOBIS KUNTUL BARIS!!" Sebuah kutipan syair yang pernah saya persembahkan untuk ibu pertiwi melalui radio RRI beberapa tahun yang lalu. Hampir dua tahun ini, saya luput mengikuti perkembangan laras pelog seni budaya Indonesia. Saya tidak terlalu fanatik untuk mengikuti perkembangan seni, tetapi ketika sebuah kebiasaan sudah mulai luntur seolah-olah saya seperti kehilangan sesuatu di diri saya. Tapi saya sadar, walaupun mata haruslah luas memandang dunia maka saat ini mata saya harus lurus memandang ke depan. Saya harus konsisten dengan cabang ilmu yang sudah saya ambil. Saya harus bisa menyelesaikannya agar dapat mulai dikembangkan dan diimplementasikan ilmunya. Tetapi cabang ilmu seni tidak boleh saya tinggalkan. Saya berusaha untuk memandang seni dari sudut pandang yang berbeda. Estetika merupakan mata seni yang telah Tuhan berikan untuk manusia. Saya memandang Tuhan sebagai pusat s...