Langsung ke konten utama
Hampir tak ada setengah jam, hari Senin tiba. Hari yang diyakini orang-orang, mengawali seabreg masalah dan aktivitas yang harus diselesaikan tujuh hari kedepan. Sama seperti biasa, saya berkutat dengan laptop dan buku hingga larut. Malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Tidak ada keheningan. Hujan terlalu asyik bercerita kepada bumi. Saya tidak akan protes, toh mereka juga senantiasa menemaniku dalam hening malam ini. Sebenarnya, banyak yang harus saya pikirkan malam ini. Untuk seminggu kedepan tentunya. Walaupun minggu ini aktivitas mahasiswa didalam perkuliahan sedang kosong, menyambut UAS senin depan, tetapi justru hari-hari tenang saya sebagai mahasiswa tidak bisa saya nikmati dengan tenang. Ingin rasanya saya membaur dan bebas layaknya mahasiswa-mahasiswa biasa seperti teman-teman saya yang ada di perkuliahan. Berkutat dengan tugas, laporan, praktikum, kuliah, main, kumpul bareng teman, jalan-jalan, dll. Saya sangat merindukan masa-masa tersebut. Saya tidak akan menyalahkan tanggung jawab yang sudah dilekatkan kepada saya. Layaknya kesatria yang ada di medan perang, bukankah seorang kesatria sejati akan berprinsip "menang atau mati"?? bukankah menyerah adalah suatu hal yang sangat memalukan bagi mereka?? Saya yakin, saya bukan pengecut. Hidup saya terlalu sempit jika harus dipusatkan hanya secara kontekstual saja. Ayolah, buka mata lebar-lebar bung!!! banyak yang harus dihadapi selain berkutat dengan buku kuliah dan segala perna-pernik perkuliahan, yang saya rasa cukup membuat saya bosan dan muak jika itu-itu saja yang dipikirkan. Melihat realita itu perlu bung!!! Saya bergelar mahasiswa. Suatu gelar yang lebih tinggi daripada siswa yang tugasnya hanya belajar (secara kontekstual) belum ada kewajiban mutlak untuk diimplementasikan ke masyarakat. Bisa dikatakan mahasiswa adalah agen perubahan. Lha kok kebiasaannya "mojok dan pacaran" tho?? lha kok kebiasaan "mejeng dan nggosip" tho?? Mana fungsinya sebagai agen perubahannya?? merubah moral menjadi tambah semakin merosot jadinya. Setidaknya peka lah, hingga nanti siap terjun ke masyarakat.  Beberapa menit lagi, tiba tengah malam. Banyak tipe mahasiswa yang mungkin saya harus kritisi. Dari mahasiswa yang terlalu acuh terhadap realita yang ada, hingga mereka yang terlalu peka dengan realita tetapi tak memahami secara konstektualnya. Disini saya menjadi mahasiswa dengan niatan bukan ingin menjadi buruh yang bisanya hanya disuruh dan harus manut dengan tindakan atasan, bukan menjadi pemimpin yang otoriter yang hanya bisa suruh-suruh orang, bukan menjadi provokator yang hanya bisa meneriakkan saja tanpa tau esensi benar atau salahnya. Saya lebih suka dengan mahasiswa yang memiliki ciri khas dan karakter yang dibangun oleh diri mahasiswa itu sendiri. Karakter yang mungkin tidak harus semua orang suka, tetapi karakter itu adalah suatu yang benar. Mungkin saya terlalu kagum dengan sosok Soe Hok Gie. Dia memiliki karakter yang kuat. Bukan sekedar akademisi yang bisa dibilang berhasil dalam orientasi perkuliahan, tetapi dia senantiasa menuangkan pikiran dan keprihatinannya terhadap keadaan realita yang ada dalam bentuk aksi. Dia idealis, tetapi dia mampu meletakkan sisi idealisnya pada tempatnya. Saya percaya, bukan hanya buku yang dia baca, tetapi obyek yang tertangkap oleh matanya pun berhasil menjadi obyek bacaan baginya. Itu adalah karakteristik seorang Soe. Yang mungkin bisa menjadi referensi untuk menemukan karakteristik diri. Dan haripun sudah berganti menjadi hari esok. Selamat datang senin :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

theory of everything (KW sekian)

Dulu, aku pernah bercita-cita ingin menjadi seorang astronom. Menemukan bintang terbesar di luasnya jagad raya, menjinjing teleskop sederhana ke tengah kuburan atau jika memungkinkan akan kubawa teleskopku naik ke dataran tinggi (aku lebih mengenal puncak gunung akhir-akhir ini). Tapi aku sadar, bintang terbesar di taraf jagad raya adalah relatif karena jagad raya selalu mengembang. Luas jagad raya sama tak terhingganya dengan hitungan angka. Mendengar teori nebula, perhitungan dengan rumus hubble dan beberapa hukum keppler. Pun sekelebat hukum relativitas einstein yang turut menginspirasi stephen hawking dalam pengembangan teori jagad raya yang mengembang. Aku kira kapasitas otak manusia lebih tak terhingga daripada luas tata surya. Beberapa hari ini aku kembali mengheningkan ingatanku dan mengkorelasikannya dalam struktur yang lebih mikro dan rumit, yaitu pola pikir manusia. Ketika luas tata surya lebih kecil sama dengan kapasitas perasaan manusia dan luas jagad raya sama tak terhin...