Langsung ke konten utama

Watu gajah 1 Desember 2014

Sekilas kuteringat tenda warna kuning yang kita dirikan kala itu di ketinggian 2500mdpl. Angin malam yang mengantarkan kita dan mencairkan kedekatan kita. Lelah yang sejenak terlepas dari pundak yang menjinjing carrier dan dari kaki yang berjalan lebih jauh. Suasana dimana hanya ada aku kamu dan Tuhan. Atau mungkin dengan setan-setan yang berkeliaran minta untuk diperhatikan. Api unggun yang menyala ditengah cuaca ekstrim watu gajah. Pergunjingan asyik tentang jati diri kita dan sejenak topik laila majnun menjadi majas perbincangan malam itu. Malam yang semakin larut waktu itu, kita putuskan untuk meniduri tenda kuning mungil yang kita dirikan ditengah bebatuan puncak merapi. Kita ucapkan selamat malam pada lampu kota yang biasa mereka sebut "bukit bintang". Aku tertidur disampingmu dan saling membelakangi. Kau panggil-panggil terus namaku, memastikan keadaanku baik-baik saja. Aku terbangun ditengah malam. Kutidur dipahamu dan kau berikan sleeping bagmu untukku. Aku tau kau juga kedinginan, lalu kuminta kau mendongengiku. "Sang raja dan penasehat". Kukembali tertidur disampingmu saling berhadapan dan tak sengaja kudengar detak jantungmu yg begitu kencang..
Kau boleh panggil aku taufik kapanpun..kurindukan itu :')

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan dan sebaliknya kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas yang seharusnya suci dan tak menuntut apapun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja (Tereliye dalam "Rindu")

~Namanya Sedih~

Lama saya tak berjumpa dengan kawan saya yang bernama "Sedih". Padahal saya amatlah kesepian, jika Sedih datang nampaknya kamar saya seperti kapal pecah penuh sketsa hitam putih terpajang di 4 tembok persegi gagah yang melahirkan sedikit banyak imajinasi. Pensil saya tidak pernah tumpul untuk menggambar, walaupun saya tidak berniat untuk membeli pensil warna untuk menghidupi imajinasi saya. Padahal jika Sedih datang, saya akan suguhi dia dengan berbagai kuliner yang memanjakan perutnya. Sayangnya, perutnya juga perut saya. Dia memutuskan untuk tidak gemuk sendirian (dasar!). Sedih telah lama pamit ke black hole yang tak seorangpun tau,  termasuk saya (jika saya tau kemana rumahnya, saya akan ketuk pintunya untuk sekedar bercerita ini itu). Sedih datang dengan membawa berbagai benang katun, wol atau bulky untuk dihadiahkan pada saya. Biasanya saya senangkan dia dengan berbagai hasil rajutan saya baik topi hangat, scraft atau rajutan-rajutan lain yang tak berbentuk. Rindulah s...