Langsung ke konten utama

Kebebasan (Freedom)

Kebebasan, lalu siapa yang akan mengandung dosa penganut paham kebebasan?


Saya tertarik mengambil tema ini ke dalam blog usang saya. Karena kata bebas sangatlah lazim terdengar di telinga kita. Sebegitu lazimnya, hingga luput untuk ditelaah kembali. Beberapa waktu lalu, adik saya yang sedang duduk di bangku SMA mengajukan tuntutan berupa kebebasan bergaul kepada para tetua keluarga kami. Saya pikir, tuntutannya langsung ditolak oleh sekretaris negara, yaitu ibu saya karena notabene nya beliau adalah seorang perempuan otoriter dan disiplin. Dan ternyata benar, tuntutan itu jelas-jelas ditolak. Lalu, adik melakukan boikot. Menolak makan, minum (saya tau dia mengendap-endap saat dia lapar dan haus) dan tidak pernah mendengarkan nasehat-nasehat ibu. Padahal menilik masa SMA saya 4 tahun yang lalu, saya enggan melakukan pemberontakan apapun kepada para tetua keluarga. Hanya menurut, karena dari dulu saya terdidik dibawah aturan keluarga yang otoriter dan disiplin. Terbukti, pada masa SMA kakak perempuan saya, dia ketahuan pacaran dan setelah itu kemana-mana dikawal bapak termasuk berangkat les, jadi pada intinya saya menurut agar kebebasan saya tidak terkekang.
            Beberapa hari ini, saya sedang ribut dengan sahabat saya. Masalahnya tentang kebebasan yang dulu pernah kami sepakati ternyata tidak sampai pada tujuan yang baik. Saya sebagai perempuan membawa senjata beramunisi perasaan sedangkan dia sebagai seorang lelaki memiliki amunisi yang lebih konkrit dan logis yaitu pikiran. Saya enak-enak saja berasumsi, bahwa sahabat saya benar-benar menggunakan kebebasannya secara utuh dan logis. Kebebasan untuk bergaul dengan siapa saja, kebebasan untuk berpikir dan menuangkan pendapat, kebebasan dalam arti universal yang pada intinya “terlepas dari semua belenggu”. Sedangkan amunisi saya yang cenderung sangat meragukan dan tidak pernah mematikan lawan menginterpretasikan kebebasan yang berarti tindak lanjut dari kebebasan universal yang saya tuliskan diatas, bahwa semua kebebasan pada hakikatnya tertuju pada arti kebebasan itu sendiri. Menghormati hak asasi manusia, sehingga timbul pertimbangan efek yang terjadi ketika kebebasan tersebut diterapkan. Kebebasan yang bersifat individualistik maupun humanistik, keduanya harus menjadi pacuan terhadap subyek kebebasan. Masalah ini, semoga saja segera mencapai titik temu. Maksud saya begini, jika kebebasan para koruptor masih diberikan, apakah efek yang akan terjadi? Mungkin ada beberapa koruptor yang sudah insyaf karena takut mengandung dosa atas nama rakyat, atau lebih aktif menjadi tikus negara yang bermutasi genetik bisa saja lebih agresif dan tidak pernah takut pada dosa rakyat yang mereka pikul.
            Apakah kebebasan itu? Saya seharusnya berkirim surat dengan para filsuf di seberang dunia sana atau membuka buku-buku lama tentang perjuangan pahlawan jaman kolonial, orde lama, orde baru hingga reformasi untuk menelaah tentang kebebasan. Bagaimanapun, kebebasan memiliki tujuan yang berbeda-beda walaupun secara universal, kebebasan berati lepas dari suatu belenggu. Beberapa yang pernah terdengar di telinga saya terutama terkait gerakan pembebasan. Gerakan-gerakan yang bertujuan sebagai gerak pembebasan pada kenyataannya juga salah satu bentuk tujuan yang terorgan untuk menumpas belenggu penindasan apapun. Contohnya begini, gerakan Revolusi Perancis adalah untuk kebebasan, basis komunis yang dikawal PKI juga meneriakkan kebebasan dari penindasan kaum kapitalis terhadap golongan tani dan buruh. Kenyataannya semua orang mengharapkan kebebasan. Yah, kembali lagi kebebasan berarti kembali kepada arti kebebasan itu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

theory of everything (KW sekian)

Dulu, aku pernah bercita-cita ingin menjadi seorang astronom. Menemukan bintang terbesar di luasnya jagad raya, menjinjing teleskop sederhana ke tengah kuburan atau jika memungkinkan akan kubawa teleskopku naik ke dataran tinggi (aku lebih mengenal puncak gunung akhir-akhir ini). Tapi aku sadar, bintang terbesar di taraf jagad raya adalah relatif karena jagad raya selalu mengembang. Luas jagad raya sama tak terhingganya dengan hitungan angka. Mendengar teori nebula, perhitungan dengan rumus hubble dan beberapa hukum keppler. Pun sekelebat hukum relativitas einstein yang turut menginspirasi stephen hawking dalam pengembangan teori jagad raya yang mengembang. Aku kira kapasitas otak manusia lebih tak terhingga daripada luas tata surya. Beberapa hari ini aku kembali mengheningkan ingatanku dan mengkorelasikannya dalam struktur yang lebih mikro dan rumit, yaitu pola pikir manusia. Ketika luas tata surya lebih kecil sama dengan kapasitas perasaan manusia dan luas jagad raya sama tak terhin...