Langsung ke konten utama

Corat-coret Awal 2017

"Mengherankan, bahwa dalam semua terbitan itu tak pernah kudapati percekcokan tentang agama. Percekcokan pokok adalah tentang makna Tanah Air dan penghidupan. Yang satu mengukuhi kemuliaan tanah air. Tanah airlah yang menyebabkan adanya bangsa untuk memiliki, memelihara, membangun dan mempertahankannya. Yang lain bilang persetan dengan Tanah air. Sekalipun kutub dingin, bila dia memberikan penghidupan, dialah Tanah air. Tanah air adalah semesta." (Pram dalam Rumah Kaca)
Salam, saya mencoba menulis kegelisahan saya melalui kalimat yang mungkin tidak begitu baik. Tapi saya tetap berusaha menuangkannya semampu yang saya bisa dengan konsisten membawakan tulisan ini tetap berpacu pada sudut pandang orang pertama. Sebelumnya, saya juga akan menyatakan bahwa saya termasuk orang yang awam dan tidak begitu paham terkait filosofi suatu bangsa. Jadi, mungkin tulisan ini terkesan "agak murahan" dibanding dengan opini-opini lain.
Indonesia adalah milik saya, kamu dan mereka. Kita tentu sudah sangat paham bahwa negeri kita adalah negeri yang kaya (kalimat klise yang sering saya dengar di media manapun, tapi saya selalu sepakat). Sebenarnya, saya juga agak kesulitan mendeskripsikan seberapa kaya Indonesia. Tapi, mari kita coba bersama-sama mendeskripsikan tentang kekayaan negeri kita yang tetap kusebut sebagai Nusantara. Jauh sebelum Indonesia merdeka, peradaban Nusantara diperkirakan lebih unggul daripada Romawi dan Mesir. Kekuasaan Majapahit telah dikenal hingga negeri-negeri ujung. Nusantara bahkan membangun filosofi hidupnya jauh sebelum filsuf-filsuf Yunani ada. blablablabla saya akhirnya bingung sendiri mendeskripsikan kekayaan Indonesia dengan rapi #payah....???!!!!
Mungkin, pada intinya tulisan yang saya unggah ini merupakan ungkapan kekecewaan terhadap generasi-generasi Indonesia yang mulai lupa terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan Nusantara yang rapi dikembangkan oleh nenek moyang kita. Saya sedang membicarakan prinsip bukan gaya hidup yang notabene harus selalu jalan alias dinamis dan fleksibel. Justru prinsip seharusnya tetap dipegang untuk senantiasa menjadi identitas diri suatu bangsa. Pada kenyataannya, orang-orang Indonesia saat ini sedang terkena nacissistic syndrome baik dalam arti denotatif maupun konotatif. Secara denotatif, orang Indonesia semakin mencintai fisik (outer beauty) yang mereka punyai, hingga penjualan kaca dan handphone kamera yang berspesifikasi tinggi semakin menjadi tuntutan kebutuhan yang dulunya merupakan kebutuhan tersier telah melesat perlahan tapi pasti menuju gerbang kebutuhan sekunder. Kemudian demi memuja dan bersaing mencintai fisik ini, maka mereka tak bosan mengunggahnya di media sosial yang merupakan fasilitas kompetisi narsis demi mendapatkan sebuah pengakuan (saya sedang mengalami...hehe). Kemudian secara konotasi, tentu manusia pada umumnya memiliki egonya masing-masing. Bahkan setiap adat, agama, maupun kelompok-kelompok tertentu memiliki egonya untuk mempertahankan tujuan kelompok tersebut. Saya tidak memungkiri bahwa ego adalah komponen penting dalam menjalankan suatu tujuan hidup. Tapi, saya sangat menyayangkan jika ego masing-masing digunakan untuk saling bercekcok. Alangkah indah, jika kita saling menghormati sebagai sesama manusia? Bukankah saat ini kita hidup diantara manusia? Bagaimana jika kita bersama-sama memanusiakan manusia? Bukankah semua manusia di Mata Tuhan tetap sama? Apa saya yang salah selama ini tentang memberikan nilai tentang manusia? Saya tidak peduli, hubungan kamu dengan Tuhanmu. Bukankah itu adalah urusan yang sangat pribadi denganmu dan Tuhan? Jauh didalam lubuk hati yang terdalam adalah keyakinan. Saya tidak peduli dengan keyakinanmu, bukankah yang terpenting adalah menjenguk kamu yang berTuhan Yesus sakit atau menanamkan ajaran Buddha Gautama dalam mengendalikan pikiran ketika bersujud kepada Alloh SWT?? Saya berusaha untuk mengembalikan tuntutan kita sebagai seorang manusia. Manusia tidak hanya terdiri dari raga saja, jauh didalam raga yang seketika bisa berbau busuk terdapat jiwa yang jangkauannya sama luasnya dengan kosmos. Pada tulisan murahan ini juga, saya tidak menuntut untuk sependapat. Karena saya berharap, dengan adanya tulisan murahan ini mungkin kita dapat sama-sama membangun kerangka berpikir bahwa hidup tidak sebatas mengadili salah atau benar dalam sekejap saja.

Komentar

  1. New Jersey casinos approved for COVID-19 vaccine
    The 아르고 캡쳐 casino bet365 코리아 industry 엠비션주소 in New Jersey 생방송바카라 is one of the largest in the world, with more than 1,200 slot machines, table 오락실슬롯머신게임 games, video poker, keno games,

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

theory of everything (KW sekian)

Dulu, aku pernah bercita-cita ingin menjadi seorang astronom. Menemukan bintang terbesar di luasnya jagad raya, menjinjing teleskop sederhana ke tengah kuburan atau jika memungkinkan akan kubawa teleskopku naik ke dataran tinggi (aku lebih mengenal puncak gunung akhir-akhir ini). Tapi aku sadar, bintang terbesar di taraf jagad raya adalah relatif karena jagad raya selalu mengembang. Luas jagad raya sama tak terhingganya dengan hitungan angka. Mendengar teori nebula, perhitungan dengan rumus hubble dan beberapa hukum keppler. Pun sekelebat hukum relativitas einstein yang turut menginspirasi stephen hawking dalam pengembangan teori jagad raya yang mengembang. Aku kira kapasitas otak manusia lebih tak terhingga daripada luas tata surya. Beberapa hari ini aku kembali mengheningkan ingatanku dan mengkorelasikannya dalam struktur yang lebih mikro dan rumit, yaitu pola pikir manusia. Ketika luas tata surya lebih kecil sama dengan kapasitas perasaan manusia dan luas jagad raya sama tak terhin...