Langsung ke konten utama

Remukan Peyek

Selamat bulan Juli..Taqobbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin ya :)

Semoga saja ini adalah tulisanku terakhir sebagai mahasiswa strata 1 jurusan farmasi yang akhirnya segera meraih gelar sarjana farmasi dalam jangka waktu sebulan ini. Harapanku terlalu tergesa-gesa hingga kutuliskan dibagian awal paragraf, tapi tidaklah munafik jika harapan itu telah muncul sudah dari 6 tahun yang lalu saat aku mulai menempuh pendidikan sebagai mahasiswa baru. Terlalu singkat 6 tahun ini jika kuniati sebagai "jalan tempuhan untuk menuntut ilmu" sebagai tujuan mulia hidup di dunia sebagai makhluk Tuhan dan terlalu lama jika kenyataanya aku hanya memperoleh "lisensi dan sertifikasi pengalaman" saja untuk mendapat pekerjaan layak kemudian saling bersaing berebut pangkat dan martabat (harga diri) dengan manusia lainnya. Kata caknun dalam bukunya "sanggupkah anda mengalahkan obsesi kehidupan anda sendiri untuk merintis peperangan yang sedikit punya harga diri?" Mungkin tulisan ini akan terasa seperti pengelakan hidup karena orang-orang biasanya dan pada umumnya bisa menempuh jalan A dengan baik dan teratur tapi aku sendiri masih dalam taraf "OTW" yang sampainya entah di A atau malah membuat jalan sendiri di C atau D. Sebagai mahasiswa yang sudah bangkotan, maka aku menyarankan bahwa jika ingin kaya harta janganlah sekolah atau belatihlah bisnis saja sedini mungkin. Sekolah hanya menjadikan kita semakin bodoh dan bodoh. Artinya seperti ini, sekolah seharusnya mengajarkan kita semakin lebih bodoh karena timbulnya ketidakpuasan akan ilmu pengetahuan yang semakin berkembang sehingga outputnya adalah manusia yang saling tidak "minteri (sok pinter)" di kalangan pergaulan sosial masyarakat tentu juga sibuk dengan melengkapi khasanah keilmuan serta jiwa mereka sendiri. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh oleh manusia, seharusnya ia mau merendah dan membaur dengan masyarakat. Harapan untuk manusia yang pernah sekolah adalah ia siap miskin dan bersedia menjadi seorang cendekia minimal dalam hatinya saja. Keadaan jiwa haruslah semakin kaya dan lapang. Wah, aku sebenarnya juga tak paham dengan tulisanku ini. Tapi inilah yang tertimbun dalam otakku. Aku merasa bahwa sekolah selama ini hanya untuk mencari ijazah sehingga dapat bersaing melamar kerja di kantor/instansi yang menjanjikan, itu yang dicita-citakan orang tuaku. Aku tidak munafik bahwa aku akan perlu sekali pekerjaan yang menjanjikan untuk hidup yang sejahtera (walaupun tidak bahagia, yang penting sandang pangan papan dapat harga bersaing lah...). Tapi saat ini aku sedang memperjuangkan kebahagian itu, betapa luar biasanya ketika semua orang hidup bahagia tanpa mempedulikan persaingan. Tapi itu mustahil, persaingan telah ada sejak anak Adam (Habil dan Qabil) saling berebut untuk mendapatkan pasangan hidup yang mereka inginkan. Sejak dari cita-cita, akhirnya kebahagiaan itu kandas (berasa nonton sinetron). Tidak ada cinta dan kebahagiaan di dunia ini kecuali jika kita mengimani mereka. Seperti halnya kita mengimani Tuhan disetiap nafas dan perilaku kita, disetiap halaman-halaman buku yang kita buka. Dimanapun.....mungkin caramu mengimani Tuhan dengan menyayangi kekasihmu sekarang atau rindu yang tak pernah kenal waktu dan tempat, dengan cinta..disitulah Tuhan ada. Wallahu a'lam bisshowab, kebenaran mutlak hanya milikNya. Selamat malam kekasihku..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan dan sebaliknya kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas yang seharusnya suci dan tak menuntut apapun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja (Tereliye dalam "Rindu")

~Namanya Sedih~

Lama saya tak berjumpa dengan kawan saya yang bernama "Sedih". Padahal saya amatlah kesepian, jika Sedih datang nampaknya kamar saya seperti kapal pecah penuh sketsa hitam putih terpajang di 4 tembok persegi gagah yang melahirkan sedikit banyak imajinasi. Pensil saya tidak pernah tumpul untuk menggambar, walaupun saya tidak berniat untuk membeli pensil warna untuk menghidupi imajinasi saya. Padahal jika Sedih datang, saya akan suguhi dia dengan berbagai kuliner yang memanjakan perutnya. Sayangnya, perutnya juga perut saya. Dia memutuskan untuk tidak gemuk sendirian (dasar!). Sedih telah lama pamit ke black hole yang tak seorangpun tau,  termasuk saya (jika saya tau kemana rumahnya, saya akan ketuk pintunya untuk sekedar bercerita ini itu). Sedih datang dengan membawa berbagai benang katun, wol atau bulky untuk dihadiahkan pada saya. Biasanya saya senangkan dia dengan berbagai hasil rajutan saya baik topi hangat, scraft atau rajutan-rajutan lain yang tak berbentuk. Rindulah s...