Selamat malam...
Akhirnya aku bisa memenuhi janjiku sendiri untuk menyelesaikan tanggung jawab
sebagai mahasiswa farmasi. Semua hal yang berkenaan dengan jatuh, bangun, sekarat, kecewa, putus asa, bahagia akhirnya telah siap sedia untuk dipak menjadi hadiah cerita untuk anak-anakku. Aku pikir selama ini, semua hal yang aku lalui sangat menegangkan. Bisa dibayangkan, bertahan dan mencoba berdamai dengan sesuatu yang sangat dibenci. Aku sangat benci dengan kimia, tapi pada kenyatannya yang aku benci malah memberiku gelar kehormatan. Aku memulainya dengan menanam keyakinan bahwa nilai 0,5 pada pelajaran kimiaku dapat memberiku manfaat suatu hari nanti. Inilah kemerdekaanku bulan ini karena dapat berdamai dengan musuhku setelah 6 tahun yang mencoba berdamai hingga tibalah waktu sidangku untuk mendeklarasikan perdamaian kami. Mungkin jika blog dan tulisan ini masih bertahan hingga anakku bisa belajar tentang hidup, maka jadilah tulisan ini sebagai dokumentasi tentang cara ibunya memendam stres nya sendiri dan menuangkan segala pemikiran serta segala rasa yang campur aduk didalam tulisan ini. Aku tidak akan mengajarinya supaya cepat berlari agar sampai pada tujuan hidupnya, karena aku sendiri sangat lamban dan tidak bisa mencontohinya seperti itu. Mungkin aku akan suka jika dia berkali-kali mengganti passionnya untuk berlari. "Ibu, mungkin gayaku akan seperti ini..boleh?? atau seperti ini??"
Perasaanku sekarang seperti menari di tengah ilalang, ah tidak! sedetik yang lalu telah berubah menjadi sabana di gunung merbabu. Aku ingat ketika pertama kali memetik Raspberry dan merasakan angin gunung yang terkadang menusuk hingga ulu hati. Tapi siangnya sabana dengan daun-daun berry yang menari membuat jiwaku merasa hidup selamanya dan tidak pernah mengenal kesedihan. Betapa inginku melepas sepasang sepatuku untuk merasakan tanah sabana. Hatiku berdegup sangat kencang seperti pertama kali kekasihku menggenggam kedua telapak tanganku. Aku tau, aku sedang tidak jatuh cinta sekarang, tapi aku merasakan jatuh cinta pada siapapun yang aku temui. Aku jatuh cinta pada setiap kata yang telah kurangkai saat ini, aku jatuh cinta pada jari jemariku yang menari bebas membuat titik dan koma dalam setiap rangkaian kata. Aku belum belajar bagaimana dopamin bekerja secara berlebih atau kandungan xantin yang terkandung dalam tubuh manusia(?). Tapi hatiku berdegup sangat kencang. Aku sedang tidak patah hati, tapi rasanya perasaanku telah tertahan hingga tenggorokanku. Seperti menahan dendam yang tak kunjung padam, tapi aku tidak dendam dengan siapapun.
"Coba, kalo nanti si A ikut wisudamu ya nin?" atau "Nin, bagaimana hubunganmu dengan si B?" atau "Kemarin si C menanyakan soal kamu.." begitulah ibu cerita panjang lebar kali tinggi. Aku tertawa, ibupun juga. Aku rindu pada ibuku selama ini. Ibuku kembali dari kesedihannya hingga tertawa terbahak-bahak saat kami bercerita lewat telepon. Jiwa kami bersua hari ini. Aku boleh jatuh, sedih, putus asa lalu kembali lagi gembira, bahagia lalu jatuh cinta. Tapi suara ketawa ibu really made my day.
Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam, menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karna kau, sedang cantik-cantiknya
Lalu mataku mulai merasa malu
Semakin dalam, ia malu kali ini
Kadang juga ia takut
Tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya
Dimalam hari menuju pagi
Sedikit cemas, banyak rindunya...
Komentar
Posting Komentar