Langsung ke konten utama

Diary Yogini Picisan (Sekilas Tentang Yoga)

"Sudah pasti kamu akan terlihat keren jika kamu mewujudkan impianmu setelah mengatasi berbagai cobaan dan ditentang keluargamu. Biasanya, kita tidak bisa melangkahi orang yang kita cintai demi mengikuti kita. Jadi pada akhirnya, kita berakhir melepaskan impian kita sendiri. Tapi itu tiak apa-apa. Meskipun kehilangan kepercayaan diri saat mendengar cerita kesuksesan yang dramatis yang tidak seberapa, kita tidak perlu tenggelam dalam frustasi dan rendah diri berkelanjutan. Bagi kita, sebagaimana pentingnya impian, orang-orang lain di sekitar kita juga sangat penting. Keputusan yang membuatku mengubah diriku demi orang yang kucinta adalah hal yang cukup pantas dan kharismatik untuk dilakukan" (Reply 1994)

(Mungkin) aku termasuk golongan Pluviophile dimana bau tanah yang terguyur hujan membuatku mendapatkan banyak inspirasi dan meningkatkan mood ku menjadi super baik. Beberapa jam yang lalu hujan, pada saat yang sama dengan posisiku sedang melakukan open heart ketika yoga bersama mbak Woro, kemudian bau hujan sangat mendukung keadaan meditasiku sehingga dapat mengkondisikan moody ku hari ini (Terima kasih Alloh, telah menurunkan hujan sebagai nikmat yang tak tergantikan). Sebenarnya aku hanya ingin sharing tentang kecintaanku terhadap hobiku sendiri yaitu berYOGA. Semoga tulisanku ini tidak disalah artikan dan kembali lagi bahwa semua interpretasi bebas karena setiap orang memiliki prinsip dan pemikiran yang berbeda-beda. 

Aku memulai rutinitasku beryoga sejak Maret 2016 di salah satu tempat fitnes. Sebetulnya aku sudah lama ingin beryoga tapi tak ada teman jadi kuberanikan diri untuk mencobanya saat itu, sendiri. Mbak Atik adalah intruktur yoga ashtanga yang membentuk first mindset ku tentang yoga. Dia juga instruktur pertama yang aku kenal hingga sekarang dan masih menjadi standar skill ku untuk melakukan asana yoga. Mungkin beberapa orang menilai tentang skill ku yang terlalu cepat mencapai primary menuju intermediate dan sedikit gerakan advanced dengan mudahnya itu salah besar. Pada kenyataannya aku hanyalah murid (yogini) yang berproses sama dengan yang lainnya, cuman seringkali aku melatih tubuhku untuk mudah diatur. Di dalam latihan yoga, aku menemukan ilmu dimana tubuh adalah bagian yang perlu kita ajak komunikasi setiap saat. Awalnya memang aku hanya iseng ingin melangsingkan tubuh, tapi lama-kelamaan menjadi cinta dan lupa terhadap tujuan melangsingkan tubuh. Sekali lagi, yoga mengajarkanku tentang caraku berkomunikasi dengan tubuhku sendiri. Secara otomatis, ketika kita sedang belajar yoga asana ketingkat yang lebih tinggi semakin kita harus memahami kebutuhan tubuh kita. Contohnya begini, aku harus mengkondisikan perutku tetap fit dengan tidak terlalu memberikan beban berat untuk lambung yang sedang menggiling makanan kita. Ketika perut dan energi kita tidak stabil dalam melakukan asana yoga, maka jangan harap yoga akan memberikan manfaat, justru malah kemudharatan seperti mual, muntah dan pusing.Yoga tidak akan melangsingkan tubuhmu, kecuali kalau kamu melakukan diet rendah atau tinggi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh sambil beryoga. Pada kenyataannya yoga adalah sarana untuk mensinkronisasi antara hati, pikiran dan tubuh (Percayalah yang ini benar!). Aku merasa menemukan passion ku disini, karena dari sini aku mulai berusaha untuk belajar sebanyak mungkin tentang yoga. Seringkali aku berganti-ganti melanglangbuana dari sanggar yoga satu ke sanggar lain untuk menemukan hakikat dari yoga. Ini tidak aku permasalahkan secara mendalam, sama halnya ketika aku tertarik dengan ilmu astronomi atau ilmu seni, aku akan mencari tahu walaupun tidak ada pendidikan formal yang memfasilitasi.  Jadi hingga bulan ke bulan akhirnya aku menjadi asisten guru yogaku sendiri hingga lambat laun tawaran untuk mengajar berdikari, tetapi aku merasa kecil dan belum apa-apa tanpa melakukan pendidikan sertifikasi. Aku harus melakukan sertifikasi pengajar dengan mengikuti training sebelum jadi pengajar, tapi melakukan training bagiku tidak semudah yang dibayangkan, karena akupun masih mahasiswa jadi orang tuaku dijamin tidak akan memfasilitasi hobiku walaupun mereka sangat mendukung. Aku tetap belajar dan menikmati hidupku menjadi murid yoga dari sanggar ke sanggar untuk mengupdate ilmuku dan 2 buku yang dipinjami guru yogaku yang sampai sekarang belum kukembalikan (maaf mbak atik hehe). Begitulah hidup, kelak harapan kedepan aku bisa membiayai hobiku sendiri menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat untuk semuanya. Btw, tulisan ini diakhiri dengan hujan. Selamat menikmati hujan :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

theory of everything (KW sekian)

Dulu, aku pernah bercita-cita ingin menjadi seorang astronom. Menemukan bintang terbesar di luasnya jagad raya, menjinjing teleskop sederhana ke tengah kuburan atau jika memungkinkan akan kubawa teleskopku naik ke dataran tinggi (aku lebih mengenal puncak gunung akhir-akhir ini). Tapi aku sadar, bintang terbesar di taraf jagad raya adalah relatif karena jagad raya selalu mengembang. Luas jagad raya sama tak terhingganya dengan hitungan angka. Mendengar teori nebula, perhitungan dengan rumus hubble dan beberapa hukum keppler. Pun sekelebat hukum relativitas einstein yang turut menginspirasi stephen hawking dalam pengembangan teori jagad raya yang mengembang. Aku kira kapasitas otak manusia lebih tak terhingga daripada luas tata surya. Beberapa hari ini aku kembali mengheningkan ingatanku dan mengkorelasikannya dalam struktur yang lebih mikro dan rumit, yaitu pola pikir manusia. Ketika luas tata surya lebih kecil sama dengan kapasitas perasaan manusia dan luas jagad raya sama tak terhin...

Perempuan Harus Bekerja (?)

Nah, ini topik hangat yang tak boleh tersingkir untuk dibahas. Mengapa perempuan harus bekerja ketika kelak ia menikah? Beberapa calon suami atau suami itu sendiri banyak yang menginginkan istrinya tetap di rumah dan memegang kendali penuh sebagai sekretaris sekaligus bendahara rumah tangga (ibu rumah tangga). Kesepakatan ini diharamkan ketika hanya bertujuan untuk tujuan pribadi dan mendzolimi yang lain (eh, kok langsung menghakimi "haram" emang aku siapah?? T.T) ketika memang suatu kesepakatan tidak menjadikan yang lain baik atau salah satu dirugikan atas kesepakatan tersebut maka kesepakatan itu sangat mendzolimi hehe..Tapi tidak sepenuhnya seperti itu. Banyak laki-laki yang masih berpendapat seperti itu karena ingin melindungi sang istri dari fitnah luar, takut istrinya kecapekan kalo harus bekerja luar dan dalam atau takut istrinya tidak sepenuhnya memenuhi kewajiban pelayanan terbaik di rumah. Saya pribadi adalah salah satu yang ingin bekerja saja ketika menikah. Beri...