Setiap orang memiliki perpustakaan besar pada dirinya. Perpustakaan yang memiliki buku-buku karakter yang berbeda dari sampul hingga penutupnya. Begitupun aku sama. Aku berjalan terus menerus menuju perpustakaanku sendiri. Kadang menemukan jalan buntu, kadang menemukan jalan baru yang tak tau ujungnya. Begitulah ketika aku sedang bergulat dengan diriku sendiri. Aku menemukan jalan buntu pada masalahku sendiri, sedangkan jalan baru mulai terbuka hingga aku harus menemukan suatu clue untuk memecahkan masalahku sendiri. Sampai sekarang akupun tak pernah tau seberapa luas perpustakaanku ini. Aku berpikir, apakah ini memiliki luas sebesar alam semesta yang tak terhingga atau berbentuk seperti enzim yang memiliki bentuk yang fleksibel terhadap reseptornya.
Bercerita tentang luasnya perpustakaan tentunya tak boleh meninggalkan bagian inti dari tempat tersebut. Sedari kecil kita sama-sama tau bahwa perpustakaan adalah tempat untuk menyimpan dan mengoleksi buku-buku. Nah, inilah bagian intinya. Sudah sangat jelas analoginya bahwa pada kenyataannya manusia hidup di dirinya sendiri bahkan juga perlu bantuan orang lain. Akupun tidak mungkin hanya berjalan hampa tanpa tujuan melingkari perpustakaan tanpa tujuan yang jelas, menemukan jalan buntu lalu menemukan jalan baru, mungkin ini yang disebut dengan manusia tanpa orientasi. Berjuta-juta buku berjejer rapi pada rak perpustakaan. Buku yang berisi tentang kamu, dia dan atau mereka. Pada saat aku menjabat tangan seseorang, pada saat itu juga aku sedang menengok sebuah sampul buku. Sama halnya ketika aku menjadi buku pada koleksi rak-rak perpustakaan kalian. Apa artinya sebuah jabatan tangan? bagiku jabatan tangan sangatlah berharga, ini menentukan seberapa menarik buku yang mulai aku baca. Jabatan tangan merupakan simbolik dari seorang manusia yang hidup secara non individualistik seperti membentangkan jembatan yang menghubungkan 2 peradaban terpisah jurang. Sebuah sikap yang sederhana tetapi bermakna sangat luar biasa bagiku. Aku tidak memaksamu untuk berpendapat sama denganku tentang arti jabat tangan. Kembali pada buku-buku yang menghiasi rak-rak perpustakaanku, pada kenyataannya ada beberapa buku yang menemani kita terus-menerus baik isi buku itu tak menyenangkan, menyedihkan, membosankan, menginspirasi, dan menyebalkan tetapi kita tetap terus saja membacanya dalam keadaan apapun karena kita sadar bahwa sebuah proses membaca dan mengerti terhadap alur bacaan, setting dan penokohan itu lebih bernilai daripada hanya menilai bahwa alur dan setting dalam bacaan itu sebatas baik atau buruk. Begitulah uniknya buku, orang membaca dengan tujuan tertentu. Ada orang yang membaca karena tertarik dan penasaran dengan sampul yang bagus, tertarik dengan semua proses yang ia lakukan hingga ia memberi banyak highlight di bukunya, hingga tibalah pada ketidaksukaannya pada buku atau kebosanannya tetapi apapun yang ia rasakan, ia tetap membaca buku itu hingga benar-benar selesai karena ia menghargai proses.
Komentar
Posting Komentar