Selama hidup saya, hanya beberapa orang yang sering memanggil saya dengan prefiks nama panjang saya. Ibu saya, sahabat-sahabat saya dan dosen pembimbing saya. Ibu saya, jelas karena beliau yang memberi nama untuk saya. Sebenarnya saya ingin menceritakan kekaguman saya terhadap dosen pembimbing saya. Beliau adalah sosok intelektualis muda yang menuntut kesempurnaan di setiap pekerjaan dengan sifat beliau yang humble dan fleksibel. Sebenarnya saya seorang yang sangat tidak disiplin dalam segala bidang. Dari mulai malas mencuci baju, membersihkan kamar, tidak pernah tepat waktu dan selalu menyepelekan segala hal. Saya sudah merasakan akibat dari perilaku manajemen diri saya yang notabene sangat buruk dan not recommended untuk dijadikan istri idaman dalam waktu dekat ini (hahaha). Awal saya bertemu dengan dosen pembimbing saya, adalah awal yang sangat memberikan kesan yang tidak pernah saya lupakan untuk bangkit dari kegagalan dan merubah sifat apatis terhadap diri saya sendiri. Beliau selalu menanyakan dan mengamati kesiapan saya pada saat itu juga. Bukannya saya selalu ditanyai tentang topik skripsi, tapi lebih kepada perilaku dan sikap untuk menghormati dan menghargai diri sendiri. Beliau bukan sosok yang banyak bicara, tapi setiap katanya mampu mematikan mangsa. Seorang Doctor of Philosophy yang memiliki hobi berjalan kaki. Beliau pernah berkata kepada teman saya bahwa "hanya orang sakit yang menaiki lift". Saya kira, itu bukanlah kalimat kesombongan, tetapi lebih kepada idealisme dan prinsip untuk mencapai kesempurnaan ide seseorang. Beliau juga tidak pernah marah jika saya tidak mencantumkan gelar-gelar pendidikan tingginya, hanya saja untuk keperluan formalitas dan etika administrasi beliau memilih untuk mencantumkannya. Begitu terkagumnya lagi ketika saya sedang iseng mencari berbagai jurnal penelitian internasional dan saya menemukan beberapa nama beliau sebagai author jurnal tersebut bersanding dengan para peneliti tingkat internasional. Saya semakin terkagum dengan kesederhanaannya. Jarak kost dengan kampuspun beliau tempuh dengan jalan kaki. Style yang beliau gunakan pun sangat khas. Beliau penyuka pashmina dan lebih sering memakai celana dan keberanian beliau memakai celana di kampus meregangkan tata tertib kolot dari dekanat tentang larangan memakai celana di kampus. Saya kira, saya akan menyebutnya sebagai seorang perempuan revolusioner, yang tidak membutuhkan polesan make up maksimal. Beliau sangat anggun tanpa make up dan memiliki pandangan ke depan. Saya akui bahwa beliau adalah seorang yang keras kepala. Tetapi humorisnya memecah rasa tegang saat itu juga. Begitu juga tentang waktu. Beliau sangat on time dan memanajemen dengan detail perhitungan waktunya. Secara tidak langsung saya menemukan sebuah ikon motivasi saya untuk memperbaiki diri. Menjadi perempuan visioner revolusioner, intelektualis, disiplin, tetap sederhana dan memiliki selera humor yang tinggi. Kadang saya bertanya pada diri saya sendiri "bagaimana jika Ph.D? ah, kan belum master..jangan jauh-jauh S1 dan profesi saja belum selesai. selesaikan apa yang ada di depan mata seperfect (semaksimal) mungkin dan usahakan yang terbaik :)" Manifestasi doa adalah usaha..iya, ini adalah renungan 30 september
Dulu, aku pernah bercita-cita ingin menjadi seorang astronom. Menemukan bintang terbesar di luasnya jagad raya, menjinjing teleskop sederhana ke tengah kuburan atau jika memungkinkan akan kubawa teleskopku naik ke dataran tinggi (aku lebih mengenal puncak gunung akhir-akhir ini). Tapi aku sadar, bintang terbesar di taraf jagad raya adalah relatif karena jagad raya selalu mengembang. Luas jagad raya sama tak terhingganya dengan hitungan angka. Mendengar teori nebula, perhitungan dengan rumus hubble dan beberapa hukum keppler. Pun sekelebat hukum relativitas einstein yang turut menginspirasi stephen hawking dalam pengembangan teori jagad raya yang mengembang. Aku kira kapasitas otak manusia lebih tak terhingga daripada luas tata surya. Beberapa hari ini aku kembali mengheningkan ingatanku dan mengkorelasikannya dalam struktur yang lebih mikro dan rumit, yaitu pola pikir manusia. Ketika luas tata surya lebih kecil sama dengan kapasitas perasaan manusia dan luas jagad raya sama tak terhin...
Komentar
Posting Komentar