Hallo selamat bermalam minggu pembaca dan para blogger...
Ini bukan tulisan ilmiah atau pemikiran ilmiah, karena yang seringkali saya tulis merupakan manifestasi pemikiran empirik saja. Jadi saya hanya menuangkan tulisan dengan pemikiran logis saya. Kebenaran memang relatif jika pemikiran hanya tertuang sebatas logika tanpa pemikiran ilmiah. Jadi mungkin jatuhnya, saya malah curhat atau berusaha memberikan tulisan yang berbobot tetapi cenderung bersifat subyektif.
Satu topik yang sangat saya apresiasi luar biasa hingga detik ini adalah tentang betapa menariknya pesona seorang wanita. Wanita dalam bahasa sanskerta berarti indah. Saya kira, pernyataan ini sudah cukup mendeskripsikan estetika seorang wanita. Keindahan dari seorang wanita adalah keindahan itu sendiri. Deskripsi subyektif saya tentang wanita adalah wanita berasal dari wani dan tata. Wani yang berarti berani dan tata yang berarti tertata. Jadi bagaimanapun, keberanian seorang wanita harus berdasarkan suatu hal yang rapi dan tertata serta terencana sebelumnya. Menarik jika wanita dikorelasikan dengan keberanian. Maka, saya akan menyebutnya sebagai "perempuan". Perempuan secara etimologi berasal dari kata dasar "empu" yang berarti gelar kehormatan "tuan" kepada orang yang sangat ahli. Sedangkan prefiks pe- memiliki arti suatu perkumpulan atau tidak hanya satu. Panjang sejarah yang menceritakan awal mula peran utama seorang perempuan. Dan kebenaran sejarah pun juga relatif karena kita tidak pernah tahu, pihak yang seperti apa yang mendokumentasikan sejarah tersebut. Jauh sebelum tahun masehi berjalan, perempuan pernah memiliki masa kejayaan yang agung sehingga zaman tersebut disebut dengan masa matriarkat dimana kepemimpinan dibawa seorang ibu sebagai kepala keluarga dan penguasa seluruh keluarga. Tetapi sumber sejarah lain mendeskripsikan peran perempuan di awal evolusi diberi tanggung jawab penuh dalam pengelolaan rumah meliputi melahirkan dan mengasuh anak, memasak dan mengelola pertanian. Sedangkan laki-laki memiliki tanggung jawab untuk berburu. Seiring berjalannya waktu, perburuan tidak efektif lagi untuk bertahan hidup, sehingga para lelaki memutuskan untuk menjaga perburuan mereka untuk dijadikan hewan ternak yang sewaktu-waktu dapat dijadikan sebagai pasokan bahan makanan. Sedangkan perempuan memiliki pekerjaan tambahan untuk mengolah kebun dan sawah untuk mengisi waktu luang mereka. Laki-laki merasa lebih banyak menganggur pada saat fase perburuan mereka berhenti dan keseharian mereka hanya dihabiskan dengan menjaga ternak. Sehingga, laki-laki memutuskan untuk membatu perempuan untuk mengolah sawah dan kebun sehingga peran ini dapat dikatakan peran transisi dimana laki-laki kembali memegang peran pokok di zaman itu. Peran laki-laki dan perempuan terus mengalami transisi dari waktu ke waktu hingga peran perempuan terpuruk kembali pada awal revolusi Perancis. Gerak dan pendapat mereka dibatasi oleh pemerintah hingga pada revolusi Perancis, banyak perempuan yang memberanikan diri untuk muncul di berbagai industri untuk bekerja. Pembatasan gerak pada saat itu dimanfaatkan oleh perempuan untuk mengisi waktu luang dengan menghasilkan produk-produk buatan tangan (handicraft. misalnya: merajut) hingga mereka berani untuk menginjakkan kaki mereka di industri dan bekerja. Inilah tahapan awal yang penuh dengan kontroversi yang disebut dengan gerakan feminisme yang dilatar belakangi oleh setting revolusi Perancis. Sekilas tentang sejarah perempuan hingga lahirnya feminisme di Perancis. To be continue... (adapun beberapa sumber yang saya gunakan meliputi Sarinah karya Soekarno, Gegar Gender, Perempuan di titik Nol)
Komentar
Posting Komentar