Langsung ke konten utama
Selamat malam hujan.. :)
Saya kira malam ini saya akan mengijinkan pikiran dan tangan saya bersinkronisasi untuk sejenak terjebak dalam nostalgia cerita SMA. Sebuah kisah tentang pandangan mata seorang perempuan yang entah kapan akan terbalaskan. Indahnya sebuah penantian cinta yang bertepuk sebelah tangan. Atau sebuah curian pandang yang tersimpan rapat yang bahkan malaikat luput mencatatnya. Sebuah perasaan yang diciptakan dari sebuah prasangka. Bagai seorang perempuan hamba sahaya yang senantiasa menjaga bunga yang ia inginkan untuk mekar. Hamba sahaya menginginkan bunga itu mekar, bukan atas ketidaksengajaan bunga itu mekar. Kehendak untuk memupuk dan menyiraminya, doa yang ia panjatkan untuknya pada Tuhan. Oh, kisah yang malang. Waktu selalu menyetarakan dirinya dengan tuhan. Atau, apakah waktu (mungkin) adalah  Tuhan dalam bentuk nyata? Tuhan tidak pernah memberikan bocoran takdir pada hambaNya. Dia menyimpannya erat, hingga manusia tak mampu menebaknya. Tuhan selalu bercanda pada sebuah kepolosan rindu. Kepolosan rindu yang tidak penah tercampur oleh kontaminan apapun. Negeri itu jauh hingga seorang hamba sahaya dilarang Tuhan untuk bertemu dengan sebuah tatapan yang entah kapan akan terbalaskan. Sebuah kisah akhir yang tidak pernah berujung pada akhir. Sebuah tanda tanya yang menggantung pada bumi, seolah bumi adalah mikroba yang tergantung pada reseptor Toll sistem imun. Hingga sebuah tatapan lain datang pada sebuah pintu ruang dan menggedor meminta untuk dibuka. Tatapan yang sayu, hingga perempuan hamba sahaya itu berhenti menyiram bunga dan membalas tatapan sayu yang baru ia kenali sepersekian detik. 

Komentar