Langsung ke konten utama

Sebuah Pengantar (Wanita di Persimpangan Era Post Modern)

Jantung saya pagi ini berdetak lebih kencang daripada pagi-pagi saya sebelumnya. Novel Nawal El-Saadawi menari-nari dengan asyiknya dalam tidur saya semalam, kebencian tokoh-tokoh imajinatifnya terhadap lelaki mewarnai dunia fantasi saya akhir-akhir ini. Saya tidak menaruh dendam terhadap para lelaki, tetapi saya sudah memutuskan untuk mengubur hati saya dengan rapi. Saya harus memutuskan, apakah nanti saya akan menikah dengan cinta, atau tanpa cinta. Saya semakin terdesak dengan kehidupan-kehidupan abnormal pasca pasutri menikah. Karena ibu saya seorang bidan, maka saya sering menguping tentang permasalahan-permasalahan perempuan yang dihadapi oleh pasien ibu. Beberapa waktu lalu, suami pasien ibu yang mengidap AIDS telah meninggalkan dunia ini. Ia meninggalkan penyakit tersebut sebagai hadiah pernikahan untuk istrinya, dan saya kira mungkin ia sangat bersyukur karena segera dipanggil Tuhan. Karena panggilan Tuhan itu, ia juga mewariskan cemoohan tetangga kepada istrinya. Beberapa pelacur meminta suntik KB berkala kepada ibu. Saya kira, ibu telah memberikan edukasi setiap pasien tersebut datang. Sering sekali saya menjumpai calon ibu yang akan melahirkan datang ke klinik ibu tanpa suami yang mendampingi. Dan beberapa waktu yang lalu, saya dicengangkan oleh seorang wanita umur dini telah melahirkan anak tanpa seorang ayah. Permasalahan mereka sama, mereka adalah perempuan dan tidak bisa berbuat lebih kepada lelaki mereka. Pada kenyataannya istri adalah semurah-murahnya harga seorang perempuan. Secara agamis ia harus terkekang dengan keharusan untuk patuh terhadap suami. Saya belum bisa menyimpulkan apakah keadaan ini lebih baik atau tidak. Tetapi jika seorang perempuan memutuskan untuk tidak menikah, maka ada 2 pilihan ketika ia menjadi perempuan bebas. Pilihan pertama, ia harus mempertimbangkan harga atau menaik turunkan harga untuk berkencan dengannya. Pilihan kedua adalah ia menjadi bebas, sebebas bebasnya dari pikiran lelaki seperti burung yang terbang menguasai awan dengan tubuh yang ramping dan ringan tak ada beban. Mungkin kebebasannya akan mengebiri dirinya dari kenikmatan yang sulit untuk dideskripsikan. Dan serendah-rendahnya seorang perempuan adalah ketika ia sama sekali tidak mematok harga berapapun untuk bercinta dengan seorang lelaki. Pada kenyataannya, wanita di era post modern ini, secara praktiknya lebih memilih untuk merendahkan dirinya didepan para lelakinya atas nama nafsu yang secara kontekstual mereka namakan sebagai cinta. Walaupun secara konstekstual mereka mengelak untuk melakukan hal itu. Hal itu sudah menciptakan sebuah ketololan dan keterbelakangan norma untuk para kaum wanita. Ibarat sebuah pertandingan bola, para wanita tidak mencetak gol di gawang lawan tapi ia lebih memilih untuk mencetak gol di gawang sendiri. Era post modern telah menciptakan wanita-wanita tolol yang diperbudak oleh sosial media, era kaum wanita yang sedang digandrungi oleh berbagai jenis penutup kepala yang sayangnya mereka menyebutnya sebagai hijab. Era dimana mereka sendiri yang masuk kedalam jurang kesengsaraan. Sayangnya ketika saya mengikuti diskusi tentang perempuan lagi, tidak ada yang saya dapat kecuali hanya membahas tentang permasalah-permasalahan klasik yang sama setiap tahun, bulan, bahkan hari ataupun detik. Hanya sebuah diskusi tanpa pengembangan dan tanpa implementasi. Saya tidak berkeinginan untuk mengkotak-kotakkan persepsi dari feminis yang menuntut tentang kesetaraan gender atau fiqih wanita sebagai dasar untuk tetap memegang teguh sebuah keadilan dan kodrat. Hanya saja, kaum wanita sekarang sudah tidak peduli lagi untuk berusaha menempatkan diri pada sebuah pegangan yang kuat. Bagaimanapun, dasar QS An-Nur 30-31 tetap saya pegang untuk mempertahankan harga diri saya sebagai wanita. Tetapi, saya menganggapnya itu kurang cukup untuk menyelesaikan permasalahan wanita di era post modern ini. Saya kira, pengembangan intelektual dan memperluas wawasan dengan cara TIDAK BERPIKIR SEMPIT dan TIDAK MENSISIHKAN ILMU-ILMU seperti mensisihkan lauk yang tidak enak dimakan karena tidak doyan adalah salah satu cara untuk membentengi diri saya sebagai wanita dari siksaan baik segi rohani maupun jasmani. Wanita harus paham posisi harfiah dirinya sebelum ia bersanding dengan suaminya nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan dan sebaliknya kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas yang seharusnya suci dan tak menuntut apapun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja (Tereliye dalam "Rindu")

~Namanya Sedih~

Lama saya tak berjumpa dengan kawan saya yang bernama "Sedih". Padahal saya amatlah kesepian, jika Sedih datang nampaknya kamar saya seperti kapal pecah penuh sketsa hitam putih terpajang di 4 tembok persegi gagah yang melahirkan sedikit banyak imajinasi. Pensil saya tidak pernah tumpul untuk menggambar, walaupun saya tidak berniat untuk membeli pensil warna untuk menghidupi imajinasi saya. Padahal jika Sedih datang, saya akan suguhi dia dengan berbagai kuliner yang memanjakan perutnya. Sayangnya, perutnya juga perut saya. Dia memutuskan untuk tidak gemuk sendirian (dasar!). Sedih telah lama pamit ke black hole yang tak seorangpun tau,  termasuk saya (jika saya tau kemana rumahnya, saya akan ketuk pintunya untuk sekedar bercerita ini itu). Sedih datang dengan membawa berbagai benang katun, wol atau bulky untuk dihadiahkan pada saya. Biasanya saya senangkan dia dengan berbagai hasil rajutan saya baik topi hangat, scraft atau rajutan-rajutan lain yang tak berbentuk. Rindulah s...