Langsung ke konten utama

AKU KAU

Selamat malam kamu yang (entah) mungkin sejak setahun silam tertanam di alam bawah sadar saya..
Wanita suka menghitung hari dan saya memperkirakan hubungan kita telah terpelihara selama lebih dari 370 hari sejak saya pertama kali mengenalmu di watu gajah. Beberapa bulan yang lalu memang saya tidak bisa mengendalikan diri saya, hingga mungkin kamu hampir pergi dari pelukan saya. Dulu, hati saya tidak pernah dan bahkan tidak bisa mentolerir masa lalumu ataupun sifat-sifatmu yang menyebalkan. Bahkan hingga sekarang saya masih menganggap kamu sebagai orang tersulit yang pernah saya kenal. Tidak ada alasan mengapa saya masih bertahan dengan sifat-sifat sulitmu hingga sekarang. Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa saya bertahan dengan orang sesulit kamu selama ini? bahkan saya seperti memakai sepatu sama kirinya ketika berjalan beriringan denganmu. Saya selalu senang ketika mencuri tatapanmu, bahkan saya tak pernah memperhatikan gadget saya ketika kamu meluangkan waktu untuk saya. Saya masih saja selalu gugup ketika duduk berdampingan denganmu, saya seperti disorientasi. Ketika saya menunggu kamu menjemput saya di depan kost, saya pun masih harap-harap cemas. Masih saja  keluar keringat dingin, tanda bahwa hormon adrenal saya berpacu keras. Semua rasa ini tetap sama sejak awal saya mencuri dengar detak jantungmu waktu itu. Bahkan dengan siapapun kamu hingga hari ini, dengan siapapun hatimu berlabuh tapi rasa ini tetap sama. Saya tidak akan cepat menyimpulkan implikasi perasaan saya dengan cinta. Saya tidak ingin tau, akan bernama apa perasaan yang seperti ini. Saya selalu ingin ada di masa-masa sulitmu, berusaha membantu atau lebih sederhananya lagi hanya memberi motivasi dengan doa. Saya semakin tidak mempedulikan persepsi orang tentang hubungan kita. Saya tidak mengharapkan rasa iba darimu karena kesediaan saya menggandeng tanganmu. Cintailah wanita yang ingin kamu cintai, sayangilah wanita yang ingin kamu sayangi, rindukanlah wanita yang ingin kamu rindukan, sukailah wanita yang ingin kamu sukai, saya tidak akan protes. Saya menerimanya, cukuplah kamu yang selalu berbahagia dan jangan tunjukkan muka muram, lesu dan marahmu atau muka keputusasaan pada saya. Maafkan saya, jika saya tidak seperti apa yang kamu harapkan. Saya tidak cantik dan hanya bisa menggemboskan ban motormu saat ini (saking gendutnya saya). Saya tidak pintar, jadi mungkin saya tidak lulus-lulus kuliah. Jari saya juga besar-besar tidak indah seperti wanita lain. Terima kasih sudah berusaha ada untuk masa sulit saya..saya tau, kamu sangat membenci orang cengeng, tapi saya adalah satu diantaranya dan kamu sangat berusaha sabar menghadapi saya..sekali lagi terima kasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan Harus Bekerja (?)

Nah, ini topik hangat yang tak boleh tersingkir untuk dibahas. Mengapa perempuan harus bekerja ketika kelak ia menikah? Beberapa calon suami atau suami itu sendiri banyak yang menginginkan istrinya tetap di rumah dan memegang kendali penuh sebagai sekretaris sekaligus bendahara rumah tangga (ibu rumah tangga). Kesepakatan ini diharamkan ketika hanya bertujuan untuk tujuan pribadi dan mendzolimi yang lain (eh, kok langsung menghakimi "haram" emang aku siapah?? T.T) ketika memang suatu kesepakatan tidak menjadikan yang lain baik atau salah satu dirugikan atas kesepakatan tersebut maka kesepakatan itu sangat mendzolimi hehe..Tapi tidak sepenuhnya seperti itu. Banyak laki-laki yang masih berpendapat seperti itu karena ingin melindungi sang istri dari fitnah luar, takut istrinya kecapekan kalo harus bekerja luar dan dalam atau takut istrinya tidak sepenuhnya memenuhi kewajiban pelayanan terbaik di rumah. Saya pribadi adalah salah satu yang ingin bekerja saja ketika menikah. Beri...

Estetika Tuhan

"Ayo kanca, pada anyengkuyung program kang tinata nuju karta raharja..kanthi bareng maju HOLOBIS KUNTUL BARIS!!" Sebuah kutipan syair yang pernah saya persembahkan untuk ibu pertiwi melalui radio RRI beberapa tahun yang lalu. Hampir dua tahun ini, saya luput mengikuti perkembangan laras pelog seni budaya Indonesia. Saya tidak terlalu fanatik untuk mengikuti perkembangan seni, tetapi ketika sebuah kebiasaan sudah mulai luntur seolah-olah saya seperti kehilangan sesuatu di diri saya. Tapi saya sadar, walaupun mata haruslah luas memandang dunia maka saat ini mata saya harus lurus memandang ke depan. Saya harus konsisten dengan cabang ilmu yang sudah saya ambil. Saya harus bisa menyelesaikannya agar dapat mulai dikembangkan dan diimplementasikan ilmunya. Tetapi cabang ilmu seni tidak boleh saya tinggalkan. Saya berusaha untuk memandang seni dari sudut pandang yang berbeda. Estetika merupakan mata seni yang telah Tuhan berikan untuk manusia. Saya memandang Tuhan sebagai pusat s...