Langsung ke konten utama

Kamu Selalu Menyebalkan, Tapi Saya Suka

Selamat malam kamu yang saya tak pernah ingin tau seberapa berharganya kamu untuk saya..
Biarlah perasaan ini menetap untuk kamu. Untuk seseorang yang tidak pernah tau, seberapa sering saya mencuri tatapannya. Untuk seseorang yang tidak pernah tau, seberapa sering saya bercerita dengan Tuhan tentangnya. Kamu, saya pikir kamu juga tak perlu tau soal perasaan saya yang mendalam. Saya harus merahasiakannya darimu dan dari semua orang, tapi saya tak bisa merahasiakan perasaan saya terhadapmu pada Tuhan. Kamu tidak pernah tau, betapa saya sangat gugup dan pucat pasi sembari membacakan doa tanpa henti saat menemanimu mempertanggung jawabkan hasil penelitianmu di depan penguji. Kamu tidak pernah tau, betapa bahagianya saya ketika mendengarkan namamu yang bergelar sarjana dipanggil melalui microphone saat wisuda oleh MC wisuda. Karena saya cengeng, saya menangis sendiri di luar gerbang dan memastikan bahwa itu adalah benar-benar namamu yang telah berhasil melewati bangku kuliah. Saya segera berlari mencari celah-celah di dalam ramainya teman-teman wisudawan untuk mencarimu. Saya sadar, saat itu kamu sedang menjaga jarak dengan saya. Saya hanya memberanikan diri mengirim pesan, bukan menelepon dan saya pikir kamu akan malas untuk membalasnya. Jadi saya tidak berharap lebih segera menemukanmu saat itu, walaupun melalui pengiriman pesan. Hati saya tetap histeris dan tetap berusaha mengira-ngira tempatmu beristirahat saat wisuda. Hormon adrenal saya berpacu keras hingga pesan saya terbalas yang segera memberitahukan keberadaanmu saat itu. Saya tidak membawa bunga, saya pikir saya tidak menanamnya beberapa bulan yang lalu. Saya hanya meletakkan kreasi saya untukmu hanya sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilanmu melalui bangku kuliah dengan lancar. Segera detak jantung saya berdetak seirama dengan langkah saya berjalan menuju tempatmu. Ada teman-temanmu yang menatap tajam saya. Mungkin mereka ada yang bertanya-tanya tentang siapa saya, atau menggunjing kecil soal pakaian saya yang tidak sinkron atau mempertanyakan soal ketidakmaluan saya datang padamu sendiri. Tangan saya dingin dan mendadak mengalami keringat dingin hingga saya semakin dekat denganmu dan mengulurkan tangan sambil berkata dengan gugup "selamat ya mas, semoga ilmunya barokah..". Kamu tidak tau, betapa saya mempertaruhkan kemaluan saya dan berpura-pura untuk berani di depan semua teman-temanmu hingga kamu mempertemukan saya dengan keluargamu lagi. Bahkan saya belum bisa menguasai keadaan detak jantung saya yang belum stabil waktu itu.
Selama ini, saya hanya menatapmu walaupun saya tau tatapanmu kosong untuk saya. Tetapi, sekali lagi saya menikmatinya. Saya menikmati tubuh saya yang seperti angin berjalan otomatis di belakangmu menuruti alur yang kamu buat. Entah alur itu untuk mengejar kerinduanmu padanya yang tak kunjung usai atau berhenti sejenak untuk menambatkan hati sejenak untuk wanita cantik yang kamu sukai. Saya tetap menikmati berjalan di belakangmu seperti angin.. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESA ITU DAN DIRINYA :)

Ada apa dengan diriku saat ini?? terlalu membuang waktu dengan sia-sia akhir-akhir ini. Mungkin terpengaruh buku Salim A Fillah, tapi bukannya malah tergerak untuk semangat malah diliputi rasa galau.  Sesosok makhluk yang tak asing kembali mengarungi pikiranku. Ah, memikirkannya membuat pikiranku tergerak untuk merindukan desa itu saat ini. Kembali aku memikirkan desa yang telah aku sambangi kira-kira sebulan yang lalu. Terasa sekali sejuknya sesejuk aku memikirkannya. Memang desa itu dengan dirinya tak asing ibarat duri dan tubuh ikan. Aura desa itu benar tak asing, terasa tenang ketika aku memikirkannya lagi. Pernah aku berpikir untuk selalu menyambangi desa itu nantinya. Rindu tersendiri tepatnya. Hirupan embun pagi dan kedaannya yang asri. Memang aku sangat menikmati disana. Walaupun diselimuti galau tingkat dewa. Bayangan sepasang suami istri yang mengolah sawah disana. Di desa itu tepatnya, di depan rumahnya.  Konyol sekali diriku, aku tak pernah bercita-cita sebagai ...

the miracle of love (definition part)

Baru-baru ini topik yang sedang hangat dibicarakan di lingkungan sekitar (kost ku terutama hehe) adalah jodoh, cinta dan sejenisnya yang menyangkut hal itu. Tak asing sih, lagi pula toh sudah waktunya menikah (hehe). Ibuk juga tak henti-hentinya bertanya tentang siapa sih yang dekat denganku saat ini. Perlu diketahui, bahwa aku sendiri sudah merasa mendekati khatam menelaah cinta dan islam. Apalagi, aku sendiri belajar di sebuah universitas islam dimana tak henti-hentinya aku mendapatkan siraman rohani penyegar qolbu. Pernah suatu hari aku mendengarkan curahan hati dari seorang teman. Dari sebelumnya aku belum mengenal cinta dan islam dan setelah aku mengenal 2 kata itu, serasa berbeda ketika aku harus dituntut menjadi pendengar dan pemberi nasehat yang baik.Dia bercerita dari A sampai Z dimana penangkapanku tentang curahan hatinya adalah, ia mengartikan cinta terlalu sempit. "Aku pokoknya cinta sama dia titik. Aku gak mau kalo aku gak sama dia" katanya sih begitu. Untung saj...