Samir, oh Samir...
bujang tampan luar biasa
tiap hari kerjamu mengaca
takut ketampanan hilang binasa
Tampan oh tampan...
mojang mana enggan kau dapat
hanya setepuk jatuhlah mereka senampan
habis manis sepah disampar
Harta oh harta, belum cukuplah kau berharta
telah mengais wanita-wanita muda
jika tibalah kau berharta
kejantanan hilang, dirundung masalah
Samir, oh sekali lagi Samir...
telah sampailah kau berbini
bini satu kurang, dua mojang kau miliki
tidak ikhlas kau jadi aki-aki
Maut, oh maut...
binimu banyak telah terpaut
satu nyingnyong, satu manggut-manggut
warisanmu jadi semrawut
(Kartasura, 2 Maret 2016 dalam jimat dukun sebelah)
Pantun ini terinspirasi dari keadaan masyarakat Indonesia, yang terkenal dengan sistem poligami yang penuh pro dan kontra. Tidak pernah ada satupun wanita yang ingin dimadu baik dari segi jasmani maupun rohani. Walaupun terdapat segelintir wanita yang memutuskan mau untuk dimadu, karena beberapa alasan yang agamis atau dari segi sosial ingin memberikan solusi membludaknya jumlah populasi manusia di dunia (yang terbanyak adalah wanita) tetapi secara psikologis terdapat banyak keluputan yang seringkali dilupakan bahkan tidak pernah dibahas. Terdapat sesuatu yang bersifat ghaib dan tidak terlihat oleh kelima indera manusia yaitu perasaan yang datang dari hati. Bukan, tentu bukan hati liver yang saya maksud, tetapi sesuatu abstrak yang disebut dengan qolbu. Bisakah perempuan saling menghargai sesama perempuan atau laki-laki menahan hidup normalnya (yang mudah suka denggan perempuan) dengan menjaga satu perasaan perempuannya saja? Saya tidak menyatakan bahwa saya tidak sepakat dengan poligami, saya mengimani kitab saya yang menganjurkan poligami. Tentulah Al-Quran memliliki sebab musabab turunnya sebuah ayat, bahkan Al-Quran telah memberikan warning terhadap lelaki yang ingin melakukan poligami. Warning-warning yang telah difirmankan Tuhan kebanyakan memang tidak diindahkan sama sekali. Keadilan mutlak hanyalah milik Tuhan, jikalau Socrates telah menjelaskan tentang keadilan dalam dialognya bersama Plato hal itu masih menjadi misteri bahwa keadilan manusia hanya berkaitan dengan yang tertangkap oleh lima indera manusia dan tiada keputusan yang saling mendzolimi (filosofi yang masih mengambang, bahkan hingga sekarang keadilan masih menjadi tanda tanya besar).
Komentar
Posting Komentar