Langsung ke konten utama

Pengakuan (Confession)

Sungguh berdosalah saya ketika surat ini tidak sampai keharibaan tuan. Tuan telah pergi mendahului saya. Berdua saya dan tuan memetik raspberry bersama, tapi tuan tidak mengijinkan saya untuk ikut pergi mendampingi tuan. Biar sama-sama di akhirat kita petik buah raspberry yang manis. Saya berdiri sendiri di tatakan batu, tempat pertama kali tuan menisbatkan sumpah matahari di senja merapi 400 sekian hari yang lalu. Tuan telah tiada dan saya hanya bersenandung dengan halusinasi tuan. Tuanku, bilakah kita bertemu setelah reinkarnasi kesekian? Mungkin saya dan tuan pernah bertemu jauh berabad-abad sebelum hari ini saya berdiri kokoh di nisan tuan. Mungkin kisah saya dan tuan pernah tercantum dalam peristiwa perang Bubat. Saya hanyalah wujud penyesalan seorang Hayam Wuruk merindukan Dyah Pitaloka yang rela membunuh dirinya sendiri demi kehormatan kerajaannya atau jauh sebelum itu? Ah sudahlah, toh akhirnya saya telah sehat kembali bahwa tuan hanyalah halusinasi saya. Kata siapa tuan tidak bisa hidup kembali? Bukan, saya tidak schizophrenia. Saya yang menghidupkan tuan dalam surat ini. Saya yang mengadakan kehidupan tuan dalam surat ini, seolah-olah saya yang sakit jiwa. Adakah seorang tuan yang sebenarnya? Sayalah yang mereka cipta tuan. Tuan, terasahlah kembali pena saya setelah sekian lama tumpul. Jika badan saya telah terhenti untuk menari dan suara saya telah sumbang untuk bernyanyi maka saya bisa menghidupkan tuan sedemikian rupa sehingga menurut apa yang saya inginkan. Biarlah pembaca sekedar membaca dan mencitrai apa yang mereka lihat. Menari diatas pena bisa menghidupkan orang yang mati dan mengadakan orang yang telah tiada. Tuanlah buktinya. Saya dapat menghidupkan suasana pasar dalam kesepian atau berbicara tanpa lawan bicara. Sebegitu menyenangkannya kah mengasah pena? Seolah-olah saya bisa menjadi tuhan atau bebas tanpa aturan menjadi gila.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan dan sebaliknya kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas yang seharusnya suci dan tak menuntut apapun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja (Tereliye dalam "Rindu")

~Namanya Sedih~

Lama saya tak berjumpa dengan kawan saya yang bernama "Sedih". Padahal saya amatlah kesepian, jika Sedih datang nampaknya kamar saya seperti kapal pecah penuh sketsa hitam putih terpajang di 4 tembok persegi gagah yang melahirkan sedikit banyak imajinasi. Pensil saya tidak pernah tumpul untuk menggambar, walaupun saya tidak berniat untuk membeli pensil warna untuk menghidupi imajinasi saya. Padahal jika Sedih datang, saya akan suguhi dia dengan berbagai kuliner yang memanjakan perutnya. Sayangnya, perutnya juga perut saya. Dia memutuskan untuk tidak gemuk sendirian (dasar!). Sedih telah lama pamit ke black hole yang tak seorangpun tau,  termasuk saya (jika saya tau kemana rumahnya, saya akan ketuk pintunya untuk sekedar bercerita ini itu). Sedih datang dengan membawa berbagai benang katun, wol atau bulky untuk dihadiahkan pada saya. Biasanya saya senangkan dia dengan berbagai hasil rajutan saya baik topi hangat, scraft atau rajutan-rajutan lain yang tak berbentuk. Rindulah s...