Sungguh berdosalah saya ketika surat ini tidak sampai keharibaan tuan. Tuan telah pergi mendahului saya. Berdua saya dan tuan memetik raspberry bersama, tapi tuan tidak mengijinkan saya untuk ikut pergi mendampingi tuan. Biar sama-sama di akhirat kita petik buah raspberry yang manis. Saya berdiri sendiri di tatakan batu, tempat pertama kali tuan menisbatkan sumpah matahari di senja merapi 400 sekian hari yang lalu. Tuan telah tiada dan saya hanya bersenandung dengan halusinasi tuan. Tuanku, bilakah kita bertemu setelah reinkarnasi kesekian? Mungkin saya dan tuan pernah bertemu jauh berabad-abad sebelum hari ini saya berdiri kokoh di nisan tuan. Mungkin kisah saya dan tuan pernah tercantum dalam peristiwa perang Bubat. Saya hanyalah wujud penyesalan seorang Hayam Wuruk merindukan Dyah Pitaloka yang rela membunuh dirinya sendiri demi kehormatan kerajaannya atau jauh sebelum itu? Ah sudahlah, toh akhirnya saya telah sehat kembali bahwa tuan hanyalah halusinasi saya. Kata siapa tuan tidak bisa hidup kembali? Bukan, saya tidak schizophrenia. Saya yang menghidupkan tuan dalam surat ini. Saya yang mengadakan kehidupan tuan dalam surat ini, seolah-olah saya yang sakit jiwa. Adakah seorang tuan yang sebenarnya? Sayalah yang mereka cipta tuan. Tuan, terasahlah kembali pena saya setelah sekian lama tumpul. Jika badan saya telah terhenti untuk menari dan suara saya telah sumbang untuk bernyanyi maka saya bisa menghidupkan tuan sedemikian rupa sehingga menurut apa yang saya inginkan. Biarlah pembaca sekedar membaca dan mencitrai apa yang mereka lihat. Menari diatas pena bisa menghidupkan orang yang mati dan mengadakan orang yang telah tiada. Tuanlah buktinya. Saya dapat menghidupkan suasana pasar dalam kesepian atau berbicara tanpa lawan bicara. Sebegitu menyenangkannya kah mengasah pena? Seolah-olah saya bisa menjadi tuhan atau bebas tanpa aturan menjadi gila.
Ada apa dengan diriku saat ini?? terlalu membuang waktu dengan sia-sia akhir-akhir ini. Mungkin terpengaruh buku Salim A Fillah, tapi bukannya malah tergerak untuk semangat malah diliputi rasa galau. Sesosok makhluk yang tak asing kembali mengarungi pikiranku. Ah, memikirkannya membuat pikiranku tergerak untuk merindukan desa itu saat ini. Kembali aku memikirkan desa yang telah aku sambangi kira-kira sebulan yang lalu. Terasa sekali sejuknya sesejuk aku memikirkannya. Memang desa itu dengan dirinya tak asing ibarat duri dan tubuh ikan. Aura desa itu benar tak asing, terasa tenang ketika aku memikirkannya lagi. Pernah aku berpikir untuk selalu menyambangi desa itu nantinya. Rindu tersendiri tepatnya. Hirupan embun pagi dan kedaannya yang asri. Memang aku sangat menikmati disana. Walaupun diselimuti galau tingkat dewa. Bayangan sepasang suami istri yang mengolah sawah disana. Di desa itu tepatnya, di depan rumahnya. Konyol sekali diriku, aku tak pernah bercita-cita sebagai ...
Komentar
Posting Komentar