Langsung ke konten utama

Jangan Zadit, berat. Biar Dilan aja



Aku jadi bingung soal timeline media sosial yang penuh dengan 2 topik itu. Mauku nonton Dilan di bioskop, kok sepertinya terlalu hedonisme dan dianggap tak bisa mencium keringat rakyat. Mauku ikut ke Asmat tapi target kuliah kok semakin menyeramkan daripada ditinggal mantan nikah.
Demam Dilanku semenjak setahun yang lalu tak kunjung reda dan semakin menjadi-jadi setelah penayangan filmnya di bioskop. Buku Dilan kesayanganku yang sudah setahun teronggok seperti mayat disudut rak buku terpaksa kuikhlaskan masuk kedalam daftar antrian pinjaman.

“Ikhlas dipinjemin jangan? Pemberian mantan soalnya, bonus puisi mantan juga. Sayang...” Bisa dibayangkan sendiri gimana perasaanmu nonton Dilan sambil mikirin mantan yang ngasih buku Dilan.

Sedangkan ditengah-tengah hebohnya netijen atas meme-meme sepikan Dilan, timbullah isu kartu kuning yang sebetulnya dengarku juga dari teman-temanku saat diskusi ditengah-tengah perkuliahan. Dan beberapa hari kemudian, aku baru tahu kalo suara mahasiswa telah berhasil menjadi trending topik netijen jaman now. Sebagai anak jaman long time ago, aku sebenarnya lebih kenal Dilan daripada Zadit. Sayangnya Dilan nggak kenal aku...
Dibalik pro kontra hadirnya Zadit di mata najwa tentang beberapa argumen yang bersifat dilematis, setidaknya Zadit telah mampu memberikan aura keseimbangan antara sosok Dilan dan Zadit di mata masyarakat jaman now. Sosok Dilan sebagai gambaran pemuda jaman 1990an dan Zadit 2018an. Sosok Dilan yang slengekan, hobi nyepik tapi cerdas dan Zadit yang kritis dan pintar karena terdaftar sebagai mahasiswa UI. Walaupun Dilan digambarkan sebagai pelajar SMA, tetapi gambaran pemikiran Dilan telah diilustrasikan oleh ayah Pidi Baiq di buku dan filmnya tentang Dilan yang suka membaca dan mengoleksi banyak buku, di kamarnya terpajang foto khomeini sebagai tokoh revolusioner Iran dan bagaimana sikap Dilan ketika dia berhadapan dengan guru yang melecehkan harga dirinya. Mungkin kalo ayah Pidi Baiq mau cerita detail tentang masa kuliahnya Dilan kayaknya Dilan bakalan jadi aktivis kampus kalo nggak penerus Soe Hok Gie. 

Begitupun dengan Zadit, mungkin aku tak terlalu mengenal dia karena sibuk kuliah dan mending nonton Dilan aja daripada ngurusin begituan. Sikap Zadit yang penuh dengan pro dan kontra secara tidak langsung telah merangsang para netijen jaman now untuk berpikir keras memikirkan bangsa Indonesia. Walaupun hanya nyinyir, tetapi sumbangsih kenyinyiran netijen kadang-kadang membuka buah pikiran kita. Sebagai mahasiswa, akupun sepakat dengan gerakan kritis yang dilakukan para aktivis mahasiswa dan sepakat pula dengan gerakan kupu-kupu (kuliah pulang). Aku pikir memang semua ada tempatnya masing-masing untuk membangun Indonesia bersama. Ada yang berteriak lantang mengkritisi dan merangsang ruh semangat untuk membangun Indonesia, ada juga yang membangun dari dalam dengan cara belajar keras  dan menjadi mahasiswa yang profesional secara akademik (lebih hebatnya lagi kalo mampu mengkritisi dan profesional secara akademik). 



Sejujurnya, dengan adanya Zadit yang dinilai terlalu mencari sensasi,aku justru berterima kasih karena dari trendingnya kejadian itu justru aku yang notabene hanya mahasiswa kuliah pulang jadi berpikir dan mencari tau tentang masalah Indonesia apa yang terjadi saat ini. Karena rasa kemanusiaan itu sering terlupa tanpa ada rangsangan yang menarik nurani kita. Aku jadi berpikir tentang keprofesionalanku sebagai mahasiswa yang “apakah kemampuanku nanti mumpuni atau tidak untuk diberikan kepada masyarakat?”. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka tuntutan kemanusiaan harusnya juga meningkat.

Komentar