Langsung ke konten utama

DILAN

"Kenalin, Dilan.."
"Dilan temennya Piyan bukan?"
"Bukan, aku nggak punya temen..kamu mau nggak jadi temenku?"

"Dia mungkin bukan lelaki baik, tapi dia nggak jahat (insyAlloh) hahaha"
Abaikan saja percakapan diatas mungkin nggak akan sama dengan Dilannya Pidi Baiq, soalnya dia udah ngaku bukan temennya Piyan..jadi aman. Setelah meledaknya Dilan di layar bioskop, buku Dilanku yang sekian lama teronggok seperti mayat akhirnya keluar dari rak persembunyiannya dan terpaksa kuikhlaskan untuk mengantri dalam daftar pinjaman. Aku pribadi sebenarnya belum sempat menikmati film yang disutradai langsung dengan penulisnya. Sekian lama, yang kudambakan bukan Dilan tapi Iqbal #heleh malah salah fokus. 
Seminggu yang lalu ada yang bilang bahwa Dilan yang sekarang memutuskan untuk menduda (baca: "keputusannya" untuk menduda) dan jualan cireng di Dago. Aku tak habis pikir, dia lebih Dilan daripada Dilan. Aku curiga, jangan-jangan dia mantannya Cika. Seminggu ini harusnya aku hidup dengan tekanan dan akhirnya stres (perkiraan BMKG seperti itu) tapi gara-gara Dilan yang mengaku bukan temannya Piyan ini, perkiraan BMKG tak terjadi sama sekali. Keempat hormon bahagiaku bahkan bersaing saling ingin menguasai tubuhku. Dilan yang bukan temannya Piyan memang membuatku gila. 
Aku seperti menemukan Dilan yang dibawa Tuhan karena dia nggak punya teman dan memutuskan berteman denganku (semoga dia tidak menyesal). Nanti kalo ketemu, jangan-jangan itu Iqbal? hahaha. Aku berharap dia hanyalah rangkaian kata yang tak bernyawa. Baiklah, jangan...jangan dipikirkan banget-banget, takutnya dia malah besoknya ilang. Jangan lupa, tadi malam super blue blood moon yang terjadi hanya sekian ratus tahun sekali (kalo ga salah) and the first time I hear your voice.

"Kamu masih ada di bumi kan?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

theory of everything (KW sekian)

Dulu, aku pernah bercita-cita ingin menjadi seorang astronom. Menemukan bintang terbesar di luasnya jagad raya, menjinjing teleskop sederhana ke tengah kuburan atau jika memungkinkan akan kubawa teleskopku naik ke dataran tinggi (aku lebih mengenal puncak gunung akhir-akhir ini). Tapi aku sadar, bintang terbesar di taraf jagad raya adalah relatif karena jagad raya selalu mengembang. Luas jagad raya sama tak terhingganya dengan hitungan angka. Mendengar teori nebula, perhitungan dengan rumus hubble dan beberapa hukum keppler. Pun sekelebat hukum relativitas einstein yang turut menginspirasi stephen hawking dalam pengembangan teori jagad raya yang mengembang. Aku kira kapasitas otak manusia lebih tak terhingga daripada luas tata surya. Beberapa hari ini aku kembali mengheningkan ingatanku dan mengkorelasikannya dalam struktur yang lebih mikro dan rumit, yaitu pola pikir manusia. Ketika luas tata surya lebih kecil sama dengan kapasitas perasaan manusia dan luas jagad raya sama tak terhin...