Langsung ke konten utama

Perjodohan ke-8

"Aku seperti kerbau dungu yang tergiring ke tempat penyembelihan, sedangkan burung-burung terbang bebas di atas tubuh bodohku ini. Inginku menjadi burung, tapi nyatanya aku malu pada kodratku sebagai kerbau yang seharusnya bangga memiliki sifat seperti kerbau. Hidupku selalu bertanya-tanya tentang perilaku penjagal "apakah mereka akan menjagalku dengan membawa peri kekerbauan atau mereka tidak punya peri kekerbauan sama sekali?" begitulah hari-hariku selalu dirundung pertanyaan yang senantiasa menemani hidupku hingga tiba hari penjagalan dan seluruh identitasku turut berakhir dengan hari itu. Inginku bereinkarnasi menjadi burung yang memeluk kebebasanku sendiri..."
Apa hebatnya aku menolak segala perjodohan sebelum-sebelum ini?? kadang aku terlalu percaya diri (mengalahkan percaya dirinya Dilan mendapatkan Milea) dan sok IYE bertahan menjadi seorang jomblo dan sok laku padahal nggak. Tapi setelah usahaku menolak berbagai perjodohan dan pada kenyataannya aku bisa survive dengan idealisku menemukan seseorang yang kelak menjadi partner hidupku, apakah akhir-akhirnya aku hanya menyerah saja dengan perjodohan yang berikutnya?? Baiklah, itu seperti protagonis 8 season The Walking Dead (yang setiap season itu terdiri dari sekitar 12-14 episode dan setiap episode berdurasi 30 menit) yang digadang-gadang tetap survive dan mati karena umur, tapi ujung-ujungnya ia mati karena wabah flu bukan karena gigitan zombie. Miris sekali. Lucunya, aku seperti menciptakan perangku sendiri di rumah karena masalah jodoh. 
Bagaimanapun orientasiku tentang menikah telah bergeser mengikuti perkembangan umur. Yah, karena akupun sadar tidak ada orang yang benar-benar mencintaiku ataupun sebaliknya (sepertinya). Aku merasa perjodohan seperti mematikan identitasku sendiri sebagai perempuan yang memiliki keinginan untuk bebas memilih dengan siapa dia akan hidup dan membangun cita-citanya.

Jangan cinta, itu berat dan akupun nggak akan kuat..biar Dilan saja #oposih.. (Semua kasihkan Dilan aja, biar kita nggak keberatan)

Aku menulis tentang ini, mencoba menghadapi perjodohan terakhir (semoga) hanya untuk membuat diriku terlihat santai dalam peperangan. Aku berharap akan benar-benar fight denganmu dan cita-cita kita. Itu mustahil jika aku tidak percaya tentang reinkarnasi. Aku berharap mendapatkan kehidupanku yang kedua dengan kebebasan seperti burung yang terbang di awan bersama-sama. Tentu kita yang akan terbang bersama-sama, bukan kembali ke tukang jagal menuju penyembelihan. Beginilah masalah dan faktaku percaya denganmu dan cita-citamu (ini lebih berat daripada rindunya Dilan haha). Kamu memberiku pilihan tentang "idealis atau realistis?". Jawabku, aku bisa idealis dan realistis denganmu asal kita hadapi sama-sama (sumpah, ini spikan diajari Dilan! tapi insyAlloh niatnya memang seperti itu hehe). Jika hanya realistis saja, mungkin tulisan ini nggak akan publish dan memulai hidupku menjadi ibu persit. Jika idealis saja, mungkin juga tulisan ini nggak akan publish dan hidupku akan sibuk dengan imajinasi tanpa realisasi.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan dan sebaliknya kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas yang seharusnya suci dan tak menuntut apapun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja (Tereliye dalam "Rindu")

~Namanya Sedih~

Lama saya tak berjumpa dengan kawan saya yang bernama "Sedih". Padahal saya amatlah kesepian, jika Sedih datang nampaknya kamar saya seperti kapal pecah penuh sketsa hitam putih terpajang di 4 tembok persegi gagah yang melahirkan sedikit banyak imajinasi. Pensil saya tidak pernah tumpul untuk menggambar, walaupun saya tidak berniat untuk membeli pensil warna untuk menghidupi imajinasi saya. Padahal jika Sedih datang, saya akan suguhi dia dengan berbagai kuliner yang memanjakan perutnya. Sayangnya, perutnya juga perut saya. Dia memutuskan untuk tidak gemuk sendirian (dasar!). Sedih telah lama pamit ke black hole yang tak seorangpun tau,  termasuk saya (jika saya tau kemana rumahnya, saya akan ketuk pintunya untuk sekedar bercerita ini itu). Sedih datang dengan membawa berbagai benang katun, wol atau bulky untuk dihadiahkan pada saya. Biasanya saya senangkan dia dengan berbagai hasil rajutan saya baik topi hangat, scraft atau rajutan-rajutan lain yang tak berbentuk. Rindulah s...