Langsung ke konten utama

DERAI PERAMAL



meraba malam tak terasa
dingin menyeruap sekujur sendi
bintang tak ada
tak menentu
peramal tak bisa menjawab
"kamu,,,"
ucap peramal
peramal hanya memandang kabur
berdiri tegang
seakan ujung banyak duri yang berjalan
gugup tak berdaya
lunglai
pucat pasi
serasa tak ada masa depan
pandangannya kosong
jauh ke depan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Corat-coret Awal 2017

"Mengherankan, bahwa dalam semua terbitan itu tak pernah kudapati percekcokan tentang agama. Percekcokan pokok adalah tentang makna Tanah Air dan penghidupan. Yang satu mengukuhi kemuliaan tanah air. Tanah airlah yang menyebabkan adanya bangsa untuk memiliki, memelihara, membangun dan mempertahankannya. Yang lain bilang persetan dengan Tanah air. Sekalipun kutub dingin, bila dia memberikan penghidupan, dialah Tanah air. Tanah air adalah semesta." (Pram dalam Rumah Kaca) Salam, saya mencoba menulis kegelisahan saya melalui kalimat yang mungkin tidak begitu baik. Tapi saya tetap berusaha menuangkannya semampu yang saya bisa dengan konsisten membawakan tulisan ini tetap berpacu pada sudut pandang orang pertama. Sebelumnya, saya juga akan menyatakan bahwa saya termasuk orang yang awam dan tidak begitu paham terkait filosofi suatu bangsa. Jadi, mungkin tulisan ini terkesan "agak murahan" dibanding dengan opini-opini lain. Indonesia adalah milik saya, kamu dan mereka...

DESA ITU DAN DIRINYA :)

Ada apa dengan diriku saat ini?? terlalu membuang waktu dengan sia-sia akhir-akhir ini. Mungkin terpengaruh buku Salim A Fillah, tapi bukannya malah tergerak untuk semangat malah diliputi rasa galau.  Sesosok makhluk yang tak asing kembali mengarungi pikiranku. Ah, memikirkannya membuat pikiranku tergerak untuk merindukan desa itu saat ini. Kembali aku memikirkan desa yang telah aku sambangi kira-kira sebulan yang lalu. Terasa sekali sejuknya sesejuk aku memikirkannya. Memang desa itu dengan dirinya tak asing ibarat duri dan tubuh ikan. Aura desa itu benar tak asing, terasa tenang ketika aku memikirkannya lagi. Pernah aku berpikir untuk selalu menyambangi desa itu nantinya. Rindu tersendiri tepatnya. Hirupan embun pagi dan kedaannya yang asri. Memang aku sangat menikmati disana. Walaupun diselimuti galau tingkat dewa. Bayangan sepasang suami istri yang mengolah sawah disana. Di desa itu tepatnya, di depan rumahnya.  Konyol sekali diriku, aku tak pernah bercita-cita sebagai ...