Langsung ke konten utama

Perempuan Harus Bekerja (?)

Nah, ini topik hangat yang tak boleh tersingkir untuk dibahas. Mengapa perempuan harus bekerja ketika kelak ia menikah? Beberapa calon suami atau suami itu sendiri banyak yang menginginkan istrinya tetap di rumah dan memegang kendali penuh sebagai sekretaris sekaligus bendahara rumah tangga (ibu rumah tangga). Kesepakatan ini diharamkan ketika hanya bertujuan untuk tujuan pribadi dan mendzolimi yang lain (eh, kok langsung menghakimi "haram" emang aku siapah?? T.T) ketika memang suatu kesepakatan tidak menjadikan yang lain baik atau salah satu dirugikan atas kesepakatan tersebut maka kesepakatan itu sangat mendzolimi hehe..Tapi tidak sepenuhnya seperti itu. Banyak laki-laki yang masih berpendapat seperti itu karena ingin melindungi sang istri dari fitnah luar, takut istrinya kecapekan kalo harus bekerja luar dan dalam atau takut istrinya tidak sepenuhnya memenuhi kewajiban pelayanan terbaik di rumah. Saya pribadi adalah salah satu yang ingin bekerja saja ketika menikah. Berikut alasannya:
Seorang perempuan harus bisa tetap bersikap bijak sebagai istri dan ibu. Merupakan madrasah paling utama (pendidik awal sebelum sekolah) terutama untuk anak-anaknya. Saya pikir, perkembangan knowledge itu sangat cepat. Dan setidaknya saya harus bisa mengejarnya. Dengan bekerja, setidaknya saya mendapatkan ilmu terapan dan teori sekaligus ilmu sosial yang dapat diolah dan dianalisis. Merupakan sebuah keutamaan menjadi calon ibu yang cerdas. Setidaknya, ketika ia memasak ia dapat mewarning kepada keluarga bahwa pemanasan lebih dari 100 derajat celcius dapat mengakibatkan karsinoma atau kanker. Bukan asal masak masakan yang enak-enak dan malah meningkatkan mortilitas (angka kematian). Toh, jangan salah! istri yang cerdas tidak akan membiarkan keluarganya membeli makanan dari luar. Karena dirasa, itu kurang sehat dan peracikan bumbunya tidak bisa dipercaya atau berbagai pertimbangan ini itu. Setidaknya juga, ia menolak untuk sekedar melakukan perawatan mahal untuk mempercantik diri karena efektifitas biaya dan resiko yang ditimbulkan (kalo ini pengalaman T.T). Ia tetap bersikap elegan ketika ia harus menjadi ibu rumah tangga dan ketika ia harus bekerja diluar. Ia adalah seseorang yang masih nyambung kalo suaminya lagi pengen sharing pekerjaanya. Toh kalo dirumah terus, belum tentu tahu bagaimana keadaan diluar dan belum tentu nyambung kalo diajak diskusi sana sini sama suami yang capek kerja. Saya sangat menghindari sekali menjadi seorang istri yang baunya dapur terus ketika menyambut sang suami tercinta pulang kerja. So smell....aduh, serasa udah jadi istri aja..........padahal mah, masih sekolah. Umbel masih mbeler gak tau cara ngelapnya, kalo bobok masih sama ibuk, apa-apa juga masih minta papah mamah....haha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

theory of everything (KW sekian)

Dulu, aku pernah bercita-cita ingin menjadi seorang astronom. Menemukan bintang terbesar di luasnya jagad raya, menjinjing teleskop sederhana ke tengah kuburan atau jika memungkinkan akan kubawa teleskopku naik ke dataran tinggi (aku lebih mengenal puncak gunung akhir-akhir ini). Tapi aku sadar, bintang terbesar di taraf jagad raya adalah relatif karena jagad raya selalu mengembang. Luas jagad raya sama tak terhingganya dengan hitungan angka. Mendengar teori nebula, perhitungan dengan rumus hubble dan beberapa hukum keppler. Pun sekelebat hukum relativitas einstein yang turut menginspirasi stephen hawking dalam pengembangan teori jagad raya yang mengembang. Aku kira kapasitas otak manusia lebih tak terhingga daripada luas tata surya. Beberapa hari ini aku kembali mengheningkan ingatanku dan mengkorelasikannya dalam struktur yang lebih mikro dan rumit, yaitu pola pikir manusia. Ketika luas tata surya lebih kecil sama dengan kapasitas perasaan manusia dan luas jagad raya sama tak terhin...