Langsung ke konten utama

Pray for Merbabu

Kawan, alam kita rusak semalam. Gunung kita, bukan gunungmu atau gunungku. Habis dilahap api. Aku sangat prihatin dengan keadaan genting semalam, walaupun aku bingung harus bersikap bagaimana. Orang-orang yang mengaku mencintai alam, malah saling menyalahkan. Jelas, orang-orang yang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki ke gunung menyalahkan orang-orang yang pernah menginjakkan kakinya ke gunung. Ini bukan masalah siapa yang mencintai alam kan? Bukankah komponen udara terbesar kita berasal dari gunung yang notabene terdapat flora-flora segar atau dari hutan tropis yang tak terjamah karbon monoksida? Bukankah air-air bersih justru berasal dari pegunungan? Aku tidak tahu menahu persis tentang fungsi gunung selain mencoba untuk berpikir secara pragmatis dan berpikir lebih sederhana tentangnya. Bukankah tanah gunung lebih subur untuk ditanami flora yang memiliki bermacam-macam spesies langka yang sulit didapatkan di dataran rendah? (catatan untuk suhu ekstrim). Bukankah banyak obat-obatan yang tumbuh di hutan tropis pegunungan? Yang aku tahu, gunung adalah mulut bumi. Tempat bumi bernapas karena isi perut yang panas, maka sewaktu-waktu bebaslah bumi mengeluarkan asap untuk bernapas sejenak atau bersendawa atau jika bumi mulai kelelahan, ia akan memuntahkan isi perutnya berupa lava pijar. Tapi, ia tidak sedang lelah kawan, tapi kita yang lengah. Kita manusia yang diciptakan lebih mulia daripada makhluk apapun. Seharusnya paham harus bersikap seperti apa. Jika ingin mendengarkan kenyataan pahit (warning), gunung tak boleh dikunjungi. Cukuplah ia berdiri kokoh apa adanya. Tapi dengan mempertimbangkan beberapa kegiatan yang sudah sering dilakukan untuk sejenak merefresh otak, olahraga, pelelitian atau sekedar mencari inspirasi maka naiklah gunung jika perlu dan naiklah dengan sewajarnya. Toh, flora juga memerlukan karbondioksida dari hasil metabolisme kita, bahan-bahan organik lainnya yang membuat tanah gunung lebih subur. Tapi GUNUNG TIDAK BUTUH SAMPAH ANORGANIK KITA! Cobalah kita introspeksi, hal-hal negatif apa yang sering kita lakukan yang secara tidak langsung telah mendzolimi alam. Membuang sampah anorganik sembarangan kah? Memetik flora-flora langka yang dilindungi kah? Atau menebang hutan gunung? Atau yang lainnya? Iya, alam telah terdzolimi karena kelalaian kita sebagai manusia. Jangan ambil apapun disana kecuali sampah dan gambar untuk dibawa pulang. Dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak. Mungkin secara tidak langsung akupun mulai tersindir dengan berbagai warning dan evaluasi yang telah kutulis. Mungkin beberapa kali secara "tidak sadar" aku pernah meninggalkan satu, dua atau lebih bahan-bahan anorganik di gunung. Tapi setidaknya aku tidak berniat menjadi pendaki alay yang bisanya hanya bawa naik titipan tulisan yang ditulis di kertas yang seabreg dan tidak dibawa pulang lagi, pamer kekuatan dengan selfie di puncak dan posting media sosial (yah, sedikit banyak akupun juga ikut tersindir). Na'udzubillah. (Tanpa kalimat motivasi, karena sudah banyak ditulis dan ini bukan ESQ)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan dan sebaliknya kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas yang seharusnya suci dan tak menuntut apapun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja (Tereliye dalam "Rindu")

~Namanya Sedih~

Lama saya tak berjumpa dengan kawan saya yang bernama "Sedih". Padahal saya amatlah kesepian, jika Sedih datang nampaknya kamar saya seperti kapal pecah penuh sketsa hitam putih terpajang di 4 tembok persegi gagah yang melahirkan sedikit banyak imajinasi. Pensil saya tidak pernah tumpul untuk menggambar, walaupun saya tidak berniat untuk membeli pensil warna untuk menghidupi imajinasi saya. Padahal jika Sedih datang, saya akan suguhi dia dengan berbagai kuliner yang memanjakan perutnya. Sayangnya, perutnya juga perut saya. Dia memutuskan untuk tidak gemuk sendirian (dasar!). Sedih telah lama pamit ke black hole yang tak seorangpun tau,  termasuk saya (jika saya tau kemana rumahnya, saya akan ketuk pintunya untuk sekedar bercerita ini itu). Sedih datang dengan membawa berbagai benang katun, wol atau bulky untuk dihadiahkan pada saya. Biasanya saya senangkan dia dengan berbagai hasil rajutan saya baik topi hangat, scraft atau rajutan-rajutan lain yang tak berbentuk. Rindulah s...