Langsung ke konten utama

kapan nikah?? udah wisuda??

Hallo agustus...idhul fitri, baru beberapa minggu selesai. tapi bulan ini masih termasuk bulan syawal loh. Well, pertanyaan yang paling greget dan mulai menimbulkan sensitivitas luar biasa adalah
1. Kapan nikah?
ya, bagi yang udah nikah sih pertanyaan ini bukan pertanyaan yang sensitif ya. Secara kalo ditanya langsung bisa jawab "kan udah nikah kemarin..blablabla". Nah, kalo yg ditanya sejenis mahasiswa labil semester tua yang sukanya galau memikirkan calon mantu yang baik buat orang tuanya kan bisa gawat. Ibarat gak ada ujan, gak ada angin tiba-tiba langsung bledeg terus turun ujannya kayak digebyur air 2 ember sekaligus dari atas. Nikah, yaps. Jujur, aku sendiri juga lagi pengen nikah muda hehe (tapi sama siapahh??? T.T)
Ada beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan ini itu sebelum memutuskan menikah. Jadi, tidak hanya bayangan enaknya aja ketika menikah tapi nggak enaknya juga perlu dipikirkan loh. Enaknya menikah sih, (apalagi nikah muda) ya kemana2 ada orang yang diajak berkeluh kesah bareng, bobok udah nggak sendiri (kalo biasanya sih aku bobok sama ibuk, jadi gak sendiri hehe curhat), ada orang yang nyemangatin, ini itu bareng lah ya. Tapi kayaknya ekspektasiku terlalu tinggi sih. Banyak hal yang perlu dipikirkan. Ingat, menikah bukan hanya menyatukan 2 insan saja tetapi menyatukan 2 keluarga. Dari 2 insan ini, dijabarkan lagi menjadi 2 sifat yang keeloguean atau keakukamuan menjadi kita. Belum lagi  menghormati keputusan2 2 keluarga yang notabene nya >3orang. Pintar memilah antara intervensi dan saran yang tepat dari 2 keluarga tersebut. Belum lagi penjabaran dari "kita" yang merupakan penjelmaan persatuan aku dan kamu. Banyak pernikahan yang tidak berhasil gegara masih keakukamuannya kuat banget. Contoh kasus nih, ada orang pacaran 10 taun (lama kannnn) eh, nikahnya cuma betah setahun (na'udzubillah) tapi ada juga yang udah nikah, setianya MasyaAllah hingga ajal menjemput (mbahkung sama mbahti sih haha). Ada juga kesalahan sedikit di awal kemudian bercerai dan membangun kesetiannya yang luar biasa di pernikahannya yg kedua (ini sih si ibuk). Setia juga tidak menjamin segalanya loh, buktinya ada juga orang yang setianya masyaAllah tega meninggalkan istri dan anak2nya nikah lagi (tanpa tujuan yg jelas. Na'udzubillah) Banyak contoh kegagalan cinta dan keberhasilan cinta yang terjadi. Ada cermin masing2 di depan kita. Nikah menjadi suatu keharusan (fardlu 'ain) ketika seseorang sudah tak dapat menahan birahi atau nafsu yg ada di dalam dirinya. Contoh: sekarang banyak nih pacaran yg gak cukup sayang2an doang di gadget. Tapi pegang atau cium sana sini dan jadinya fitnah sana sini. Nah, kayak gitu mah yang banyak dirugikan ceweknya lah ya.....aduhhh (feminis banget sih haha), nah kalo udah nggak nahan buat gituan mending cepetan nikah gih!! Tapi kalo belum mampu, maka BERPUASALAH. Nikah menjadi sunnah jika seseorang sudah mampu untuk menikah. Mampu secara jasmani dan rohani loh. Contoh: cowok udah kerja tapi belum mapan. Sekiranya harta yang ia punya bisa menghidupi anak istrinya maka ia menikah. Nikah bisa juga haram loh, nih kalo tujuan nggak baik. Contoh: pernikahan yg mendzolimi kedua belah pihak. Haduhhh nyrocos nikah mah nggak abis2. Rumpi jadinya. Jadi udah siap nikah belum??

2. Wisuda kapan? (Pertanyaan yg cukup buat kuping panas, kepala rada cekat-cekot dan berbagai gejala2 yang tak biasa muncul tiba2 kayak alergi, batuk berdahak, mimisan tiba2, syok anafilaksis, step. Serem kannn!!) Bicara soal wisuda, bicara soal proses. Eh, tapi gak cuma wisuda aja sih yang mengutamakan proses. Tapi semua bentuk dan jenis kehidupan diutamakan prosesnya. Mau wisuda kapanpun kalo tak ada usaha implementasi ilmu percumah! Mau wisuda kapanpun kalo masih aja immoral ya percumah! Mau wisuda kapanpun tapi gak bisa membiasakan yang benar dan tetep aja membenarkan yang biasa ya percumah!

Capek nulis...ngantuukk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

theory of everything (KW sekian)

Dulu, aku pernah bercita-cita ingin menjadi seorang astronom. Menemukan bintang terbesar di luasnya jagad raya, menjinjing teleskop sederhana ke tengah kuburan atau jika memungkinkan akan kubawa teleskopku naik ke dataran tinggi (aku lebih mengenal puncak gunung akhir-akhir ini). Tapi aku sadar, bintang terbesar di taraf jagad raya adalah relatif karena jagad raya selalu mengembang. Luas jagad raya sama tak terhingganya dengan hitungan angka. Mendengar teori nebula, perhitungan dengan rumus hubble dan beberapa hukum keppler. Pun sekelebat hukum relativitas einstein yang turut menginspirasi stephen hawking dalam pengembangan teori jagad raya yang mengembang. Aku kira kapasitas otak manusia lebih tak terhingga daripada luas tata surya. Beberapa hari ini aku kembali mengheningkan ingatanku dan mengkorelasikannya dalam struktur yang lebih mikro dan rumit, yaitu pola pikir manusia. Ketika luas tata surya lebih kecil sama dengan kapasitas perasaan manusia dan luas jagad raya sama tak terhin...