Langsung ke konten utama

Kenangan bagian dari sejarah..save it well gaess

Sangat tidak bijak sekali ketika aku membungkam kenangan-kenangan silam yang toh mereka juga punya hak untuk bicara. Walaupun mereka seenaknya nyerocos soal sejarah-sejarah masa lalu yang notebene banyak yang menyakitkan dan tidak enak didengarkan telinga, nyatanya mereka juga ada di garda pinggiran ketika mimpi, ikhtiar dan doa (yang ada di garda terdepan) mulai menggiring si empu untuk berperang di medan peperangan. Ayolah, membuat sejarah juga tak mudah bung. Sejarah hanya akan dituliskan oleh orang yang menang. Mereka yang menang berhak untuk menghapuskan sejarah-sejarah orang yang terkalahkan. Bukankah bicara soal kenangan, nyatanya tak lepas dari sejarah juga kan? Orang-orang yang dekat mengenalku, berpikir bahwa aku memiliki pola pikir yang sulit. Mengakibatkan sifatku yang terlalu keras dan egois. Beberapa sahabat, teman dekat, pacar dan mantan pacar memberikan testimoni yang sama bahwa aku adalah pribadi yang sangat keras dan egois. Ada beberapa hal yang melatar belakangi pembentukan sifatku yang seperti itu pastinya. Dan hal ini juga tak jauh dari kenangan, cermin hidup dan habbit yang membentuk. Aku terlahir dari sebuah keluarga yang tak begitu mendramatisir hidupnya, tapi cukup bisa dijadikan cermin hidup yang baik. Ibuku yang notebene adalah seorang perempuan pekerja keras sangat menerapkan kehidupan yang disiplin sedari kecil (walaupun nyatanya aku gak disiplin sih..hehe) bagaimanapun beliau menyelesaikan masalah dengan rapi, selalu. Ibuku seorang perempuan independen walaupun ada suami siaga yang super setia, selalu ada 24 jam nonstop mendampingi beliau. Aku selalu menjadi pendengar yang baik kalo ibuk sama bapak lagi curhat sih..selalu tentang kenangan silam mereka. Kadang ibuk yang suka curhat tentang mantan suaminya atau bapak yang sedang merindukan almarhumah mantan istrinya. Nyatanya aku lebih menyukai bapak tiriku ketimbang bapak kandungku nan jauh disana. Tapi tetap, aku menjadi pendengar yang baik kalo kadang-kadang bapak kandungku sedang galau. Mereka semua mempermasalahkan satu hal dalam cerita kegalauan mereka. Kenangan. Ya, aku paham bapak kandungku dan ibuku telah mengukir kenangan yang nyata diatas kisah percintaan mereka. Yaitu aku. Mungkin itu sebabnya, mengapa ibuku tiri sering menangis pasca bertemu denganku. Aku adalah hasil kenangan nyata yang tak pernah bisa dihapus (kecuali kalo akunya dibunuh haha..disinilah aku bersyukur ada HAM yang melindungi hak manusia untuk hidup). Aku sendiri adalah wujud dari sebuah kenangan. Betapa kuatnya ibuk ketika beliau setiap hari harus hidup dengan kenangannya sendiri. Menghidupi dan merawat kenangan nyata itu dengan baik. Itulah sebabnya mengapa aku tak bisa marah kepada seseorang yang masih saja terpaut dengan kenangannya, belum bisa move on atau galau tingkat akut. Salah jika aku marah, kenangan tak bisa dihapus. Apalagi kalo kenangannya nyata kayak aku gini. Nah, jadi aku mulai berpikir untuk membuka kembali catatan pribadiku tanpa takut membuka kenangan lama yang notabene nya banyak yang menyakitkan. Mungkin ada beberapa barang dari mantan pacar (kalo memang itu barang pemberian, gak usah dikembalikan. Dihargai pemberiannya dengan disimpan baik-baik. Atau lebih tepatnya dimuseumkan) atau tulisan-tulisan. Gak papalah, itu bagian dari sejarah haha..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan dan sebaliknya kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas yang seharusnya suci dan tak menuntut apapun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja (Tereliye dalam "Rindu")

~Namanya Sedih~

Lama saya tak berjumpa dengan kawan saya yang bernama "Sedih". Padahal saya amatlah kesepian, jika Sedih datang nampaknya kamar saya seperti kapal pecah penuh sketsa hitam putih terpajang di 4 tembok persegi gagah yang melahirkan sedikit banyak imajinasi. Pensil saya tidak pernah tumpul untuk menggambar, walaupun saya tidak berniat untuk membeli pensil warna untuk menghidupi imajinasi saya. Padahal jika Sedih datang, saya akan suguhi dia dengan berbagai kuliner yang memanjakan perutnya. Sayangnya, perutnya juga perut saya. Dia memutuskan untuk tidak gemuk sendirian (dasar!). Sedih telah lama pamit ke black hole yang tak seorangpun tau,  termasuk saya (jika saya tau kemana rumahnya, saya akan ketuk pintunya untuk sekedar bercerita ini itu). Sedih datang dengan membawa berbagai benang katun, wol atau bulky untuk dihadiahkan pada saya. Biasanya saya senangkan dia dengan berbagai hasil rajutan saya baik topi hangat, scraft atau rajutan-rajutan lain yang tak berbentuk. Rindulah s...