Langsung ke konten utama

PESONA WARA SUMBADRA


DEWI SUMBADRA atau Dewi Sumbadra (pedalangan Jawa), dikenal pula dengan nama Dewi Mrenges, Dewi Rara Ireng, Dewi Bratajaya dan Dewi Kendengpamali. Ia adalah putri Prabu Basudewa, raja negara Mandura dari permaisuri Dewi Rohini/Dewi Badrahini.

Dewi Sumbadra mempunyai 4 orang saudara lain ibu, yaitu; Kakrasana dan Narayana dari Dewi Mahindra/Maerah (Ped.Jawa), Kangsa, dari Ibu Dewi Mahira/Maekah — (Kangsa sebenarnya putra Dewi Mahira dengan raksasa Gorawangsa yang menyaru/beralih rupa menjadi Prabu Basudewa palsu dan bermain asmara dengan Dewi Mahira), Udawa, dari ibu Ken Sagupi, seorang swaraswati Keraton Mandura.

Dewi Sumbadra diyakini sebagai titisan Bathari Sri Widowati, istri Bathara Wisnu. Ia mempunyai watak; setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun), menarik hati/merakati dan mudah tersinggung. Sumbadra menikah dengan Raden Arjuna, satria Pandawa putra Prabu Pandu, raja negara Astina dengan Dewi Kunti, dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Angkawijaya/Abimanyu. Ia tinggal di taman Banoncinawi, Kadipaten Madukara wilayah negara Amarta.

Akhir riwayatnya diceritakan, ia mati moksa bersama keluarga Pandawa setelah Parikesit, Putra Abimanyu dengan Dewi Utari, dinobatkan sebagai raja Astina menggantikan Prabu Kalimataya/Prabu Puntadewa.

Pesona Sumbadra, tak terkalahkan. Sesosok wanita idaman setiap lelaki. Beliau sangat bisa mengambil hati ARJUNA sang suami

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Corat-coret Awal 2017

"Mengherankan, bahwa dalam semua terbitan itu tak pernah kudapati percekcokan tentang agama. Percekcokan pokok adalah tentang makna Tanah Air dan penghidupan. Yang satu mengukuhi kemuliaan tanah air. Tanah airlah yang menyebabkan adanya bangsa untuk memiliki, memelihara, membangun dan mempertahankannya. Yang lain bilang persetan dengan Tanah air. Sekalipun kutub dingin, bila dia memberikan penghidupan, dialah Tanah air. Tanah air adalah semesta." (Pram dalam Rumah Kaca) Salam, saya mencoba menulis kegelisahan saya melalui kalimat yang mungkin tidak begitu baik. Tapi saya tetap berusaha menuangkannya semampu yang saya bisa dengan konsisten membawakan tulisan ini tetap berpacu pada sudut pandang orang pertama. Sebelumnya, saya juga akan menyatakan bahwa saya termasuk orang yang awam dan tidak begitu paham terkait filosofi suatu bangsa. Jadi, mungkin tulisan ini terkesan "agak murahan" dibanding dengan opini-opini lain. Indonesia adalah milik saya, kamu dan mereka...

DESA ITU DAN DIRINYA :)

Ada apa dengan diriku saat ini?? terlalu membuang waktu dengan sia-sia akhir-akhir ini. Mungkin terpengaruh buku Salim A Fillah, tapi bukannya malah tergerak untuk semangat malah diliputi rasa galau.  Sesosok makhluk yang tak asing kembali mengarungi pikiranku. Ah, memikirkannya membuat pikiranku tergerak untuk merindukan desa itu saat ini. Kembali aku memikirkan desa yang telah aku sambangi kira-kira sebulan yang lalu. Terasa sekali sejuknya sesejuk aku memikirkannya. Memang desa itu dengan dirinya tak asing ibarat duri dan tubuh ikan. Aura desa itu benar tak asing, terasa tenang ketika aku memikirkannya lagi. Pernah aku berpikir untuk selalu menyambangi desa itu nantinya. Rindu tersendiri tepatnya. Hirupan embun pagi dan kedaannya yang asri. Memang aku sangat menikmati disana. Walaupun diselimuti galau tingkat dewa. Bayangan sepasang suami istri yang mengolah sawah disana. Di desa itu tepatnya, di depan rumahnya.  Konyol sekali diriku, aku tak pernah bercita-cita sebagai ...