Langsung ke konten utama

Man Like as Effervescent

"Ketika datang seorang lelaki menawarkan hatinya sebagai obat, maka wanita tersebut harus aware bahwa obat merupakan kamuflase dari racun. Ketika obat memenuhi jendela terapi, maka obat tersebut tidak menimbulkan luka dan bersifat menyembuhkan serta kenaikan kualitas hidup sedangkan jika obat telah melewati batas toksik minimal, maka resiko akan terjadi timbulnya efek samping luka yang tidak akan bisa sembuh kecuali dengan rehabilitasi khusus atau kemungkinan untuk mengkonsumsi obat lain dengan faktor resiko luka yang sama". Bayangan rasa sakit ketika menjalin hubungan khusus dengan seorang lelaki masih terpampang nyata. Perceraian, perpisahan, pengkhianatan, perselingkuhan, ketidakpastian yang melatarbelakangi cermin kehidupan saya. Membuat saya enggan untuk mengenal lelaki untuk kesekian kali. Bagaimanapun perpisahan itu nyata dan angka ketidakpastian masih menjadi bahan diskusi hangat di kelas fisika. Betapa seorang wanita menggunakan hormon oksitosinnya secara maksimal hingga menimbulkan perasaan yang mendalam dan rasa keibuan yang luar biasa. Menuruti perasaan sering dinilai bodoh, polos atau terlalu baik. Padahal, untuk seorang wanita, menuruti perasaan merupakan salah satu keniscayaan. Ada orang yang memanfaatkannya dengan benar, ada yang menjadikannya sebuah mainan hormon. Cukup dengan teori klasik tentang pertarungan antara logika dan perasaan.
Akhir-akhir ini budaya outer beauty yang semakin mewabah menuntut kebanyakan wanita untuk bersolek maksimal, entah melalui dunia nyata atau dunia maya. Skin care  semakin merakyat, butik yang semakin up date dan kosmetik-kosmetik impor mulai menghiasi pasar nasional dan memanipulasi estetika wanita. Budaya latah semakin membentuk karakter wanita Indonesia. Seperti halnya teori evolusi bahwa yang kalah dan tertinggal akan punah dan hilang termakan zaman. Adapun yang mampu bertahan adalah ia yang mampu survive dan paham akan hakikat tujuan hidup, pun golongan ini bersifat minoritas dan terasingkan. Saya pernah sekali dua kali mengikuti beberapa tren latah untuk mempercantik diri saya. Saya melakukan travelling skin care untuk memperoleh kecantikan seperti yang diharapkan. Berbagai terapi kecantikan saya lakukan, hingga banyak yang memuji hasil dari terapi ini yang notabene nya tidak murah untuk kalangan menengah ke bawah seperti saya. Saya merasa ketidakpuasan terhadap outer beauty menjadi "tidak berujung". Beruntunglah, Tuhan segera memberikan saya warning berupa sedikit efek samping yang terjadi karena perawatan tersebut. Seharusnya saya sadar, sebagai mahasiswa farmasi harus pintar menimbang efektivitas biaya dengan hasil terapi. Biaya tidak efektif jika nilai rupiah lebih besar untuk mengatasi faktor resiko daripada kecantikan yang diinginkan. Ini merupakan manifestasi ilmu farmakoekonomi. Dalam teori farmasi klinik, kosmetik yang memiliki efek cepat dan signifikan atau dapat dikatakan instan, kejadian toksik (keracunan) yang bersifat akut (cepat) maupun kronik (menahun) lebih besar daripada kosmetik yang memiliki dosis umum dan telah teruji secara klinik atau dermatologi.
Kembali ke permasalahan awal, justru pada zaman sekarang wanita yang memiliki beautiful looking lah yang jauh dari kenyataan-kenyataan pahit yang telah saya sebutkan diatas. Saya pernah mendengar pernyataan tentang "lelaki diuji kesetiannya ketika ia kaya dan wanita diuji kesetiannya ketika ia miskin". Lelaki cederung menyukai seorang wanita dengan beautiful looking, paras yang cantik, tubuh yang bagus. Ini normal. Tapi, saya sangat penasaran "mengapa lelaki lebih suka berganti-ganti pasangan?". Ketika mereka memiliki uang sendiri, mereka bebas untuk memiliki segalanya karena lelaki memiliki hakikat memberi. Sebaliknya, seorang wanita akan menuntut lebih karena pada hakikatnya ia adalah makhluk yang menerima. Dalam teori psikologi terdapat istilah like as effervescent. Analogi rasa suka terhadap seseorang ibarat sebuah gelembung yang memiliki sifat mudah pecah dalam waktu kurang dari satu menit (sangat singkat). Teori ini berlaku untuk lelaki dan wanita yang mudah suka satu sama lain dan seharusnya mereka harus bisa menganalisis rasa suka yang seperti apa yang akan mereka tawarkan untuk pasangan mereka. Apakah cinta? sayang? atau hanya sebuah komitmen untuk hidup bersama? Saya tidak tahu, akan seberapa lama seorang lelaki bertahan mencintai kecantikan tubuh seorang wanita. Mungkin, jika semua lelaki bersikukuh ingin mencari kesempurnaan fisik pasangannya, saya yang notebene nya tidak memiliki sesuatu yang menarik untuk ditampilkan akan mundur teratur dan memutuskan untuk mengabdi sepenuhnya untuk orang tua saya. Jika situasi saat ini semakin mengerikan, maka saya berharap Tuhan memberikan saya jodoh di akhirat bukan di bumi.

Komentar