Langsung ke konten utama

Sebuah kelahiran (part 2)

"Wahai anakku! laksanakanlah sholat dan suruhlah manusia berbuat yang makruf dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting" (QS Luqman; 17)
Saya pernah bertanya kepada ibu, surat apa yang paling beliau sukai. Saya sangat ingat, beliau selalu mengingatkan saya dengan gaya persis seperti Lukman mengingatkan kebaikan kepada anaknya. "Ibu suka dengan surat Luqman ayat 17 nduk..". Pertanyaan tentang seberapa sejati beliau menjadi ibu, mungkin itu adalah pertanyaan mutlak sepanjang massa. Saya sangat ingat ketika beliau mengajarkan sholat kepada saya. Rumah kami yang bertegel tanah memaksa kami untuk selalu sholat diatas ranjang tempat tidur. Tapi saya senang, karena sekitar umur 4 tahun saya memiliki mukena baru untuk dikenakan sholat berjamaah dengan ibu. Saya selalu mengajak bicara ibu saat sholat dan tertawa mengajak senda gurau ketika sedang khusyuknya beliau sholat. Tetapi beliau mencontohkan saya, bagaimana sikap yang baik saat berkomunikasi dengan Tuhan. Kehidupan kami setelah pulang dari Jogja, ibu menjadi sangat dibutuhkan bagi penduduk desa. Ibu sudah tinggal dengan uti dan akung di desa pasca bercerai dengan bapak. Ibu menjadi lebih sibuk ketika beliau diterima menjadi seorang pegawai negeri di kota. Perjalanan dari desa ke kota memakan waktu 2 jam. Beliau harus meninggalkan saya di desa dengan uti dan akung sedangkan ibu harus bekerja lebih keras dan banyak menghemat uang untuk membeli motor. Ibu mengajari saya untuk berhemat. Saya tidak punya mainan apapun kecuali bola bekel yang hanya bisa dimainkan di langgar milik tetangga. Ibu mengajari saya untuk tidak membeli barang yang tidak perlu sedini mungkin. Saya hanya dibelikan crayon untuk mewarnai dan alat-alat gambar. Ketika saya menginjak TK, saya terbiasa ditinggal ibu untuk bekerja ke kota. Beliau memutuskan untuk mengontrak rumah dekat kantor. Seminggu sekali beliau sempatkan pulang ke desa untuk saya. Sedangkan saya, lebih senang tinggal di desa. Dengan uti dan akung yang tidak pernah marah. Karena ibu akhir-akhir itu sering memarahi saya dan didikan beliau terlampau disiplin. Rumah saya di desa diapit oleh 3 sungai. Sungai sebelah kiri sering banjir ketika musim hujan, jadi akung memutuskan untuk meninggikan posisi rumah kami. Sungai bagian belakang rumah kami sering ramai dipakai mandi santriwati-santriwati pondok seberang sungai. Sedangkan sungai sebelah kanan kami arusnya terlalu deras dan berbahaya untuk dijangkau penduduk. Rumah kami tidak memiliki kamar mandi dan WC. Saya terbiasa mandi di sumber air (mbelik) sungai sebelah kiri rumah kami. Sedangkan untuk WC, tentu berbeda dengan yang biasanya dipakai mandi. Tidak menjijikkan. Depan rumah kami terhampar sawah yang sangat luas. Ada juga sawah akung dan uti sepanjang hamparan sawah itu. Gunung lawu berdiri kokoh didepan rumah kami. Karena desa kami ada di kaki gunung, maka gunung lawu terlihat sangat besar setiap kami membuka pintu rumah. Setelah pulang sekolah, saya terbiasa ikut akung dan uti ke hutan. Banyak yang mereka kerjakan. Dari mecari kacang, ketela, atau memungut perhiasan-perhiasan batu peninggalan Belanda zaman dulu di hutan. Ibu selalu marah dengan uti dan akung ketika beliau tahu, saya sering bermain di hutan bersama mereka. Walaupun uti dan akung telah ada di sisi Tuhan lebih dulu, tetapi semangat mereka masih tetap ada di jiwa saya. Uti dan akung pernah menerangkan filosofi keniscayaan kuning telur dan putih telur. "Kuning telur dan putihnya harus tetap dimakan bersamaan. Jika kuning telur dimakan sendirian, maka hanya ada rasa telur yang tertinggal bukan kemudahan untuk menelan. Tetapi jika putih telur yang dimakan sendirian, maka tidak didapati rasa khas telur walaupun akan sangat mudah ditelan. Mereka ada, untuk saling melengkapi". Telur adalah nikmat yang paling indah, walaupun saya lebih suka makan dengan lauk minyak jelantah bekas gorengan ikan asin. Itu makanan khas saya, ketika perekonomian keluarga sedang sangat terpuruk. Tapi saya suka :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESA ITU DAN DIRINYA :)

Ada apa dengan diriku saat ini?? terlalu membuang waktu dengan sia-sia akhir-akhir ini. Mungkin terpengaruh buku Salim A Fillah, tapi bukannya malah tergerak untuk semangat malah diliputi rasa galau.  Sesosok makhluk yang tak asing kembali mengarungi pikiranku. Ah, memikirkannya membuat pikiranku tergerak untuk merindukan desa itu saat ini. Kembali aku memikirkan desa yang telah aku sambangi kira-kira sebulan yang lalu. Terasa sekali sejuknya sesejuk aku memikirkannya. Memang desa itu dengan dirinya tak asing ibarat duri dan tubuh ikan. Aura desa itu benar tak asing, terasa tenang ketika aku memikirkannya lagi. Pernah aku berpikir untuk selalu menyambangi desa itu nantinya. Rindu tersendiri tepatnya. Hirupan embun pagi dan kedaannya yang asri. Memang aku sangat menikmati disana. Walaupun diselimuti galau tingkat dewa. Bayangan sepasang suami istri yang mengolah sawah disana. Di desa itu tepatnya, di depan rumahnya.  Konyol sekali diriku, aku tak pernah bercita-cita sebagai ...

the miracle of love (definition part)

Baru-baru ini topik yang sedang hangat dibicarakan di lingkungan sekitar (kost ku terutama hehe) adalah jodoh, cinta dan sejenisnya yang menyangkut hal itu. Tak asing sih, lagi pula toh sudah waktunya menikah (hehe). Ibuk juga tak henti-hentinya bertanya tentang siapa sih yang dekat denganku saat ini. Perlu diketahui, bahwa aku sendiri sudah merasa mendekati khatam menelaah cinta dan islam. Apalagi, aku sendiri belajar di sebuah universitas islam dimana tak henti-hentinya aku mendapatkan siraman rohani penyegar qolbu. Pernah suatu hari aku mendengarkan curahan hati dari seorang teman. Dari sebelumnya aku belum mengenal cinta dan islam dan setelah aku mengenal 2 kata itu, serasa berbeda ketika aku harus dituntut menjadi pendengar dan pemberi nasehat yang baik.Dia bercerita dari A sampai Z dimana penangkapanku tentang curahan hatinya adalah, ia mengartikan cinta terlalu sempit. "Aku pokoknya cinta sama dia titik. Aku gak mau kalo aku gak sama dia" katanya sih begitu. Untung saj...