"Kembalilah pulang jika semangatmu telah hilang.."
Memandang wajah ibu dan bapak di rumah merupakan salah satu bentuk rasa syukur yang paling sederhana. Saya selalu melankolis jika berbicara dengan ibu saya, walaupun kami adalah wanita keras kepala di rumah, tetapi saya tetap kalah suara dengan ibu saya (suara beliau memang sangat lantang untuk seukuran wanita paruh baya). Saya memang jarang menghidupkan gadget saya di rumah. Pun, saya tidak membawa tugas-tugas kuliah untuk dibawa pulang. Saya lebih senang berbincang dengan orang tua saya dan kadang mereka sering melimpahkan kekesalan mereka kepada saya. Saya maklum, karena sudah sekitar tujuh tahun saya jauh dari mereka (menengok mereka di rumah hanya saya usahakan seminggu sekali).
Selama saya sekolah, ibu selalu tidur di kamar saya. Pun ketika saya pulang, beliau memilih tidur dengan saya daripada dengan bapak. Ibu selalu menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan berdua dengan saya ketika saya pulang ke rumah.
Hampir 22 tahun yang lalu saya dilahirkan di sebuah rumah bersalin milik bidan Endang (senior ibu saya). Saya lahir sebagai seorang bayi perempuan dengan berat 3,6 kg (berat badan yang lumayan besar, mungkin ibu terlalu banyak mengkonsumsi gula) pada pukul 18.45 WIB. Konon, ketika bayi lahir menjelang isya', ia dilahirkan sebagai seorang pemberani. Saya amini mitos tersebut, agar terus mensugesti hidup saya. Saya mendapatkan nama "Chinintya Rahma Pahlawadita" dari bapak dan akung saya. Panggilan ninin? menurut ibu, itu adalah nama mantan pacar bapak saya. Tapi kata akung, itu panggilan dari akung untuk saya. Saya suka. Nama NININ sangat berharga bagi saya. Saya belajar banyak dari nama pemberian akung. Akung cukup kreatif. NININ memiliki filosofi nama yang tidak biasa. Pernikahan ibu hingga kelahiran saya, memberikan kebahagiaan luar biasa untuk keluarga bapak dan keluarga ibu. Hingga berbagai masalah hidup kemudian datang pada keluarga kami bertubi-tubi. Untunglah, semangat ibu untuk meneruskan sekolah tidak luntur, hingga pada tahun 1996 beliau tamat D1 sebagai seorang perawat. Ninin kecil selalu diajak ibu untuk bermalam di rumah sakit. Kami sering tidur di kolong tempat tidur pasien. Keadaan ekonomi bapak yang tidak menentu, menuntut ibu sebagai wanita penyokong ekonomi keluarga. 3 tahun saya dan ibu tinggal di Jogja tanpa bapak saya. Karena bapak memilih tinggal di magetan. Saya sering diajak dokter, apoteker di rumah sakit ibu untuk berjalan-jalan. Lebih sering lagi, saya dititipkan di ruang instalasi farmasi rumah sakit. Bermain-main dengan obat, mortir dan stemper. Untuk umur 3 tahun, saya mungkin sudah sering terpapar kuman rumah sakit. Sampai sekarang, saya suka bau rumah sakit. Ibu merasa sangat terbantu, karena banyak yang menyukai saya pada waktu itu.
Komentar
Posting Komentar