Langsung ke konten utama

Untukmu yang Telah MATI

Tuhan dalam firmanNya tertuang dalam Al-Qur'an dan kitab-kitab sebelumnya, telah memberikan simbolik cerita roman melalui Adam dan Hawa. Sebuah pentagram merupakan simbolis dari keseimbangan antara piala dan pedang. Filosofi yang menggambarkan hakikat seorang laki-laki yang memiliki sifat donatur dan wanita yang cenderung sebagai resipien. Sama halnya dengan rose yang dikenal sebagai bunga mawar. Merupakan anagram dari eros yang berarti dewa cinta dalam mitologi Yunani yang berpasangan dengan dewi isis. Pola pikir yang tidak bisa terlepas satu sama lain. Mitologi China yang dikenal sebagai yin dan yang. Dalam permainan bahasa Indonesia, bahkan "aku" merupakan anagram dari "kau" dalam proses menuju "kua". Pada proses metabolisme obat dalam tubuh, obat hanya bisa berikatan dengan reseptornya sehingga obat dapat bekerja efektif di dalam tubuh. Cerita roman antara obat dan reseptor? Saya kira, reseptor akan bersaing dengan protein pengikat untuk mengikat molekul obat. Banyak analogi-analogi yang menggambarkan kisah roman laki-laki dan wanita. Dua individu yang saling membutuhkan, tanpa menyetarakan dan mengunggulkan derajat masing-masing karena dua individu tersebut memiliki fungsi peran yang berbeda dan spesifik. Sesuatu yang pada harfiahnya seimbang, memang harus tetap dipertahankan untuk selalu seimbang. 
Sadarlah, bahwa orang yang saya cintai telah mati. Ia hanya hidup sebagai seorang teman, yang saya harus selalu membuka tangan untuk memberikan bantuan, untuk selalu ramah dan untuk selalu menyapa. Ia adalah saudara semuslim yang diharamkan saya putus tali silaturahimnya. Saya telah menguburnya, bukan memendamnya. Saya kubur ia dengan layak, agar saya bisa mempersembahkan karya-karya terbaik saya diatas kuburannya. Hati dan karya saya tidak akan mati lantaran ditinggal mati olehnya. Hati saya harus tetap hidup. Cinta tidak meredupkan semangat. Cinta tidak mematikan semangat. Cinta membangkitkan dan menghidupkan semangat. Gerbang magister terbuka lebar. Saya tidak boleh sekarat lantaran ditinggal mati oleh cinta saya. Saya harus jadi master of. Saya akan mati sia-sia jika hati saya sekarat di tengah jalan. Hati saya tidak boleh mati!


Beberapa hari ini, sepertinya saya ada di taraf depresi. Semangat saya untuk meningkatkan kualitas hidup berkurang. Saya tidak tahu, mengapa akhir-akhir ini saya merasa down. Kadang saya merasa menderita bipolar disorder. Tapi sepertinya gejala saya tidak konsisten, jadi mungkin ini hanya sugesti saja. Setiap individu pasti pernah mengalami gangguan psikologi. Saya tidak terlalu mencemaskan keadaan saya. Tetapi keadaan saraf yang menegang mempengaruhi flora usus saya. Stres membuat saya sering mengalami sakit perut kadang diare atau konstipasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan Harus Bekerja (?)

Nah, ini topik hangat yang tak boleh tersingkir untuk dibahas. Mengapa perempuan harus bekerja ketika kelak ia menikah? Beberapa calon suami atau suami itu sendiri banyak yang menginginkan istrinya tetap di rumah dan memegang kendali penuh sebagai sekretaris sekaligus bendahara rumah tangga (ibu rumah tangga). Kesepakatan ini diharamkan ketika hanya bertujuan untuk tujuan pribadi dan mendzolimi yang lain (eh, kok langsung menghakimi "haram" emang aku siapah?? T.T) ketika memang suatu kesepakatan tidak menjadikan yang lain baik atau salah satu dirugikan atas kesepakatan tersebut maka kesepakatan itu sangat mendzolimi hehe..Tapi tidak sepenuhnya seperti itu. Banyak laki-laki yang masih berpendapat seperti itu karena ingin melindungi sang istri dari fitnah luar, takut istrinya kecapekan kalo harus bekerja luar dan dalam atau takut istrinya tidak sepenuhnya memenuhi kewajiban pelayanan terbaik di rumah. Saya pribadi adalah salah satu yang ingin bekerja saja ketika menikah. Beri...

Estetika Tuhan

"Ayo kanca, pada anyengkuyung program kang tinata nuju karta raharja..kanthi bareng maju HOLOBIS KUNTUL BARIS!!" Sebuah kutipan syair yang pernah saya persembahkan untuk ibu pertiwi melalui radio RRI beberapa tahun yang lalu. Hampir dua tahun ini, saya luput mengikuti perkembangan laras pelog seni budaya Indonesia. Saya tidak terlalu fanatik untuk mengikuti perkembangan seni, tetapi ketika sebuah kebiasaan sudah mulai luntur seolah-olah saya seperti kehilangan sesuatu di diri saya. Tapi saya sadar, walaupun mata haruslah luas memandang dunia maka saat ini mata saya harus lurus memandang ke depan. Saya harus konsisten dengan cabang ilmu yang sudah saya ambil. Saya harus bisa menyelesaikannya agar dapat mulai dikembangkan dan diimplementasikan ilmunya. Tetapi cabang ilmu seni tidak boleh saya tinggalkan. Saya berusaha untuk memandang seni dari sudut pandang yang berbeda. Estetika merupakan mata seni yang telah Tuhan berikan untuk manusia. Saya memandang Tuhan sebagai pusat s...