Langsung ke konten utama

Sang Mutiara dari Priangan Timur



Tuanku sang mutiara dari Priangan Timur,
Mengapakah setiap pertemuan adalah penyesalan? lidah saya kelu berbicara dengan tuan, oleh karenanya saya lebih sering diam jika bertemu dengan tuan. Saya benar-benar tak sanggup berkata apapun sejak saya dan tuan menciptakan impuls yang absurd. Tapi setelah pertemuan itu berakhir, menyesalah diri saya karena semua perasaan yang akan tumpah hanya tertahan di bibir saya. Apalah arti bertemu jika setelahnya kita berpisah? Tuanku, selama kita bersahabat, saya telah terlalu nyaman menjadi angin. Suatu zat netral yang tidak perlu dilihat karena memang saya tidak terlihat atau saya tidak menuntut untuk dirasakan. Mungkin karena saya takut kehilangan tuan. Tapi dengan adanya saya menjadi angin, maka lunturlah hak saya untuk merasa kehilangan. Atau jika tuan ingin meninggalkan saya, tidaklah perlu adanya bekas yang melekat di badan tuan atau sebaliknya. Sehingga tidak ada yang terdzolimi. Saya telah menimbang nasehat-nasehat tuan sebagaimana orang yang lebih tua daripada saya, bahwa tuan belum berani berangan-angan beristri saya. Semakin dewasa saya, maka apa yang saya rasakan sama. Saya terlampau takut berangan-angan akan bersuamikan siapakah saya nanti (tuan sendiri tau sebab-musababnya, saya terlampau takut membangun angan dengan lelaki jaman sekarang). Tuan dan saya telah mencoba berkasih-kasihan hingga beberapa waktu yang lalu tetapi tidak membangkitkan angan-angan malah semakin menjadikan renggang hubungan persahabatan kita. Kini, munculah tuan untuk kedua kalinya dengan keadaan yang berbeza. Walaupun saya tidak mafhum apakah tuan reinkarnasi atau sekedar halusinasi saya. Tuan dan saya lebih suka berdamai dengan persahabatan yang terisi penuh dengan komitmen yang kokoh dan agung. Tak ubahnya kita hanyalah makhluk Tuhan yang sedang membangun sebuah bangunan dengan material kokoh sedikit demi sedikit tanpa adanya cela nafsu yang akan merobohkan bangunan itu. Tuan telah menasehati saya tentang cinta tanpa pamrih, saya sedang belajar dan mulai dapat menata hati. Semakin hari, saya telah asyik bersahabat suci tanpa cela dengan tuan dan saya tersadar tuan telah berumur tidak muda lagi. Tuan telah matang untuk menikah, jika tuan ingin mendahului saya maka saya akan mempersilahkan. Saya tidak pernah tau akan menikah dengan jenis lelaki seperti apa dan kapan. Saya hanya asyik menjalin persahabatan dengan tuan dan hanya kepada tuan saya mengenal lebih. Ketakutan utama saya adalah kehilangan tuan. Jikalau tuan ingin mendahului saya menikah, maka sebuah jalan yang saya tempuh yaitu tetap meneruskan sekolah hingga pikiran saya lelah. Tuan, saya hanyalah angin dan kembalikan hakikat saya sebagai angin. Tidak perlu dilihat karena saya tidak terlihat dan saya tidak menuntut untuk dirasakan. Tuan, saya sangat bahagia bersahabat baik dengan tuan. Lelaki seperti tuan setelah ini hanyalah sebuah halusinasi mutlak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

theory of everything (KW sekian)

Dulu, aku pernah bercita-cita ingin menjadi seorang astronom. Menemukan bintang terbesar di luasnya jagad raya, menjinjing teleskop sederhana ke tengah kuburan atau jika memungkinkan akan kubawa teleskopku naik ke dataran tinggi (aku lebih mengenal puncak gunung akhir-akhir ini). Tapi aku sadar, bintang terbesar di taraf jagad raya adalah relatif karena jagad raya selalu mengembang. Luas jagad raya sama tak terhingganya dengan hitungan angka. Mendengar teori nebula, perhitungan dengan rumus hubble dan beberapa hukum keppler. Pun sekelebat hukum relativitas einstein yang turut menginspirasi stephen hawking dalam pengembangan teori jagad raya yang mengembang. Aku kira kapasitas otak manusia lebih tak terhingga daripada luas tata surya. Beberapa hari ini aku kembali mengheningkan ingatanku dan mengkorelasikannya dalam struktur yang lebih mikro dan rumit, yaitu pola pikir manusia. Ketika luas tata surya lebih kecil sama dengan kapasitas perasaan manusia dan luas jagad raya sama tak terhin...