Tuanku
sang mutiara dari Priangan Timur,
Mengapakah
setiap pertemuan adalah penyesalan? lidah saya kelu berbicara dengan tuan, oleh
karenanya saya lebih sering diam jika bertemu dengan tuan. Saya benar-benar tak
sanggup berkata apapun sejak saya dan tuan menciptakan impuls yang absurd. Tapi
setelah pertemuan itu berakhir, menyesalah diri saya karena semua perasaan yang
akan tumpah hanya tertahan di bibir saya. Apalah arti bertemu jika setelahnya
kita berpisah? Tuanku, selama kita bersahabat, saya telah terlalu nyaman
menjadi angin. Suatu zat netral yang tidak perlu dilihat karena memang saya
tidak terlihat atau saya tidak menuntut untuk dirasakan. Mungkin karena saya
takut kehilangan tuan. Tapi dengan adanya saya menjadi angin, maka lunturlah
hak saya untuk merasa kehilangan. Atau jika tuan ingin meninggalkan saya,
tidaklah perlu adanya bekas yang melekat di badan tuan atau sebaliknya. Sehingga
tidak ada yang terdzolimi. Saya telah menimbang nasehat-nasehat tuan
sebagaimana orang yang lebih tua daripada saya, bahwa tuan belum berani
berangan-angan beristri saya. Semakin dewasa saya, maka apa yang saya rasakan
sama. Saya terlampau takut berangan-angan akan bersuamikan siapakah saya nanti
(tuan sendiri tau sebab-musababnya, saya terlampau takut membangun angan dengan
lelaki jaman sekarang). Tuan dan saya telah mencoba berkasih-kasihan hingga
beberapa waktu yang lalu tetapi tidak membangkitkan angan-angan malah semakin
menjadikan renggang hubungan persahabatan kita. Kini, munculah tuan untuk kedua
kalinya dengan keadaan yang berbeza. Walaupun saya tidak mafhum apakah tuan
reinkarnasi atau sekedar halusinasi saya. Tuan dan saya lebih suka berdamai
dengan persahabatan yang terisi penuh dengan komitmen yang kokoh dan agung. Tak
ubahnya kita hanyalah makhluk Tuhan yang sedang membangun sebuah bangunan
dengan material kokoh sedikit demi sedikit tanpa adanya cela nafsu yang akan merobohkan
bangunan itu. Tuan telah menasehati saya tentang cinta tanpa pamrih, saya
sedang belajar dan mulai dapat menata hati. Semakin hari, saya telah asyik bersahabat
suci tanpa cela dengan tuan dan saya tersadar tuan telah berumur tidak muda lagi.
Tuan telah matang untuk menikah, jika tuan ingin mendahului saya maka saya akan
mempersilahkan. Saya tidak pernah tau akan menikah dengan jenis lelaki seperti
apa dan kapan. Saya hanya asyik menjalin persahabatan dengan tuan dan hanya kepada
tuan saya mengenal lebih. Ketakutan utama saya adalah kehilangan tuan. Jikalau
tuan ingin mendahului saya menikah, maka sebuah jalan yang saya tempuh yaitu
tetap meneruskan sekolah hingga pikiran saya lelah. Tuan, saya hanyalah angin
dan kembalikan hakikat saya sebagai angin. Tidak perlu dilihat karena saya
tidak terlihat dan saya tidak menuntut untuk dirasakan. Tuan, saya sangat
bahagia bersahabat baik dengan tuan. Lelaki seperti tuan setelah ini hanyalah
sebuah halusinasi mutlak.
Komentar
Posting Komentar