Surat pertama
Tuan Raspberry,
Kamu tau sunrise? Ah, mungkin pertanyaan saya salah. Biar saya ralat. 400 sekian hari yang lalu bukankah tuan telah menisbatkan sebuah sumpah tentang matahari di ujung senja merapi? Saat itulah saya kenal tuan. Tuan adalah Homo Tasikens, orang Tasik pertama yang saya kenal. Bukan orang kedua setelah Euis atau orang ketiga setelah Euis dan Cecep. "Kamu suka sunset?" Itu pertama kali tuan mempertanyakan soal kesukaan saya. Saya ingat, tuan bertanya diatas tatakan batu terjal hampir sejajar dengan arah matahari dan siluet puncak Merbabu sembari membawa barang 2 atau lebih batang kayu bakar untuk api unggun di Watu Gajah. "Siapa orang yang tidak suka sunset?" gumamku menggerutu di dalam hati. Saya cemburu padanya, karena bahkan saya menyukainya. "mmm...biasa saja. Tapi lukisan Tuhan tidak ada yang buruk" gengsi saya pada tuan sembari menengok belakang memperhatikan matahari yang semakin malu ditelan senja Merapi. Lukisan Tuhan terlalu indah, pikir saya. Saya bersyukur mata saya tercipta seperti proyeksi lukisan warna-warni bukan sekedar sketsa hitam putih. Warna alam terlalu liar dengan kombinasi warna sekunder menari dengan warna tersier serasa mata saya menangkap bayangan abstrak yang saling berpendar. Tuan menyunggingkan senyum sambil berlalu meninggalkan saya tetap di tatakan batu menikmati senja sendiri. "Nikmatilah..." katamu. Saya memperhatikan punggung tuan hingga hilang ditelan senja. "Adalah punggung yang sama dengan lelaki halusinasi yang menemani saya memetik Raspberry di Merbabu beberapa minggu yang lalu".
Surat kedua,
Tuan Raspberry,
Saya kira tuan akan datang kepada saya dengan nuansa baru. Wanita suka berasumsi, barangkali itu hobi saya 2 tahun terakhir ini. Saya masih dalam suasana berkabung. Beberapa bulan yang lalu, kekasih saya pergi dalam kedamaian. Saya telah menguburnya dengan khidmat di pertengahan Merbabu dan Merapi. Mungkin akhir-akhir ini saya telah benar mengidap schizophrenia sehingga tuan datang kembali tanpa mafhum saya dapat membedakan apakah tuan reinkarnasi atau sekedar halusinasi. Jika saya sakit jiwa, seharusnya saya dapat menangkap keganjilan tuan. Tibalah saya mafhum, terdapat bilangan berpola disini. Proyeksi tuan telah membawa kebiasaan lama tuan seperti deret aritmatika beruntut. Pupil saya membesar dan saya segera tersadar bahwa saya sedang sakit jiwa. Saya kira tuan akan datang kepada saya dengan nuansa baru. Hujan segera menyambut kesadaran saya yang tak terduga. "Hujan yang melepas rindu, berbahagialah dan sembunyikan air mata saya". Sebenarnya saya juga berharap hujan menyembunyikan akal sehat saya. Saya hanya bisa berdiri di teras rumah ditemani cumbuan suara hujan yang saling melepas rindu pada bumi. Saya berharap tuan menjemput saya, tapi kesadaran saya segera membantahnya. Saya sudah tak lagi mendapati tuan menjemput saya atau sekedar mengajak bermain air atau memegangi tangan saya sembari bertanya "Tanganmu hangat, kamu sakit?" tuan tidak nyata. Mungkin saya harus mendatangi kubur tuan untuk sekedar mengganti karangan bunga atau sedikit bersenda gurau dengan nisan tuan. "Tuan kapan datang kembali?" Baiklah jika tuan tidak lagi nyata, saya lebih memilih sakit jiwa. Karena dengan sakit jiwa, saya bisa memeluk tuan dalam rindu. Hanya saya yang bisa. Karena hanya saya yang sakit jiwa.
Komentar
Posting Komentar