Langsung ke konten utama

Postingan

I saw your eyes deeply and I found your soul

"Kita pernah bertemu, lalu saling meninggalkan dan memutuskan untuk kembali" Hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya adalah menjadi salah satu perempuan yang berharga di hidupmu. Aku membayangkan kita berjalan bersama di Ranu Kumbolo. Angin gunung yang menusuk tulang rusuk dan jejak-jejak kaki pendaki yang mempertegas bahwa kita tidak pernah sendirian di bumi ini. Aku tidak pernah sebahagia ini hingga aku percaya bahwa kesedihan tidak pernah diciptakan untuk kita berdua.  "Makanya diet, biar ga gendut!" Bagaimana program dietku bisa lancar, jika kamu tak pernah memberiku sebab untuk kurus. Akalku terlalu sehat, makanpun aku senang (baca: jika ada kamu). Percaya atau tidak, kita telah melewati masa effervescent untuk sampai pada tahap awal ini dan aku sedikit tidak percaya bahwa segala rasa yang ada tetaplah sama bahkan meningkat bagiku (walaupun itu sangat biasa) tapi kita punya intuisi yang kuat. Mmmmmm, aku pikir semua pasang kekasih juga punya intuisi yan...

Jangan Zadit, berat. Biar Dilan aja

Aku jadi bingung soal timeline media sosial yang penuh dengan 2 topik itu. Mauku nonton Dilan di bioskop, kok sepertinya terlalu hedonisme dan dianggap tak bisa mencium keringat rakyat. Mauku ikut ke Asmat tapi target kuliah kok semakin menyeramkan daripada ditinggal mantan nikah. Demam Dilanku semenjak setahun yang lalu tak kunjung reda dan semakin menjadi-jadi setelah penayangan filmnya di bioskop. Buku Dilan kesayanganku yang sudah setahun teronggok seperti mayat disudut rak buku terpaksa kuikhlaskan masuk kedalam daftar antrian pinjaman. “Ikhlas dipinjemin jangan? Pemberian mantan soalnya, bonus puisi mantan juga. Sayang...” Bisa dibayangkan sendiri gimana perasaanmu nonton Dilan sambil mikirin mantan yang ngasih buku Dilan. Sedangkan ditengah-tengah hebohnya netijen atas meme-meme sepikan Dilan, timbullah isu kartu kuning yang sebetulnya dengarku juga dari teman-temanku saat diskusi ditengah-tengah perkuliahan. Dan beberapa hari kemudian, aku baru tahu kalo suara maha...

Perjodohan ke-8

"Aku seperti kerbau dungu yang tergiring ke tempat penyembelihan, sedangkan burung-burung terbang bebas di atas tubuh bodohku ini. Inginku menjadi burung, tapi nyatanya aku malu pada kodratku sebagai kerbau yang seharusnya bangga memiliki sifat seperti kerbau. Hidupku selalu bertanya-tanya tentang perilaku penjagal "apakah mereka akan menjagalku dengan membawa peri kekerbauan atau mereka tidak punya peri kekerbauan sama sekali?" begitulah hari-hariku selalu dirundung pertanyaan yang senantiasa menemani hidupku hingga tiba hari penjagalan dan seluruh identitasku turut berakhir dengan hari itu. Inginku bereinkarnasi menjadi burung yang memeluk kebebasanku sendiri..." Apa hebatnya aku menolak segala perjodohan sebelum-sebelum ini?? kadang aku terlalu percaya diri (mengalahkan percaya dirinya Dilan mendapatkan Milea) dan sok IYE bertahan menjadi seorang jomblo dan sok laku padahal nggak. Tapi setelah usahaku menolak berbagai perjodohan dan pada kenyataannya aku bisa ...

DILAN

"Kenalin, Dilan.." "Dilan temennya Piyan bukan?" "Bukan, aku nggak punya temen..kamu mau nggak jadi temenku?" "Dia mungkin bukan lelaki baik, tapi dia nggak jahat (insyAlloh) hahaha" Abaikan saja percakapan diatas mungkin nggak akan sama dengan Dilannya Pidi Baiq, soalnya dia udah ngaku bukan temennya Piyan..jadi aman. Setelah meledaknya Dilan di layar bioskop, buku Dilanku yang sekian lama teronggok seperti mayat akhirnya keluar dari rak persembunyiannya dan terpaksa kuikhlaskan untuk mengantri dalam daftar pinjaman. Aku pribadi sebenarnya belum sempat menikmati film yang disutradai langsung dengan penulisnya. Sekian lama, yang kudambakan bukan Dilan tapi Iqbal #heleh malah salah fokus.  Seminggu yang lalu ada yang bilang bahwa Dilan yang sekarang memutuskan untuk menduda (baca: "keputusannya" untuk menduda) dan jualan cireng di Dago. Aku tak habis pikir, dia lebih Dilan daripada Dilan. Aku curiga, jangan-jangan dia ma...

INTUISI

"So let us melt and make no noise" (John Donne) Pada akhirnya, waktu akan merasa tidak terima ketika melihat adeganku dan kamu terlihat semakin rumit dan ruwet. Pada akhirnya, waktu yang menyela adegan kita seolah-olah dia menyutradarai sepenuhnya tentang bagaimana kita harus berbuat. Aku senang jika akhirnya kita tak terlalu mau untuk membuat adegan perdebatan yang menjijikkan. Sejauh ini, aku merasa hidup dengan bisikan dan dukungan semesta. Semesta selalu membisikkan namamu seolah-olah daun dan embun menyatu untuk selalu menyebut nama semesta. Telinga dan perilakuku terlalu dibisingkan olah namamu yang tak pernah bisa hilang. Aku hidup dengan mengelak selama hampir 7 tahun ini. Bisakah kamu membayangkan bagaimana kinerja "let it flow" dan membayangkan efek yang terjadi ketika aku berhasil melakukannya?? Aku tak pernah paham bagaimana intuisi kita saling bekerja. Seorang dokter sekaligus dosen anatomiku pernah berkata bahwa gelombang elektromagnetik otak seseor...

Holding on and letting go

"Holding on and letting go.." Sudah pasti bukan aku saja yang penasaran akan kejadian 1 detik kemudian, bahkan akupun tak yakin pada setiap abjad yang terangkai menjadi kata kemudian menjadi sebuah kalimat yang bisa jadi bermakna atau tidak sama sekali bagimu. Kamu tau, bagaimana air mengalir tanpa memperhatikan tempo dan cenderung masa bodoh. Dia menjadi dirinya seperti dirinya sendiri. Aku mendengar suara hujan diluar begitu menenangkan, tapi dibalik ketenangan yang kurasakan adalah kerisauan dan kekacauan yang luar biasa di bumi bagian lain. Selain kuanalogikan sebagai makna konotasinya, akupun juga memberi makna denotasi sebagai wujud keberdukaanku pada manusia-manusia yang sedang terkena bencana disana. Alam sedang berproses, ia sedang dalam titik emosi. Aku sering berpikir, kadang air bisa sebaik atau sekejam waktu.  Beberapa jam kedepan, Desember akan menyambut hari-harimu. Pasti bagimu biasa saja, tapi tidak bagiku. Menyambut Desember seperti berdiri dalam se...

Diary Yogini Picisan (Sekilas Tentang Yoga)

"Sudah pasti kamu akan terlihat keren jika kamu mewujudkan impianmu setelah mengatasi berbagai cobaan dan ditentang keluargamu. Biasanya, kita tidak bisa melangkahi orang yang kita cintai demi mengikuti kita. Jadi pada akhirnya, kita berakhir melepaskan impian kita sendiri. Tapi itu tiak apa-apa. Meskipun kehilangan kepercayaan diri saat mendengar cerita kesuksesan yang dramatis yang tidak seberapa, kita tidak perlu tenggelam dalam frustasi dan rendah diri berkelanjutan. Bagi kita, sebagaimana pentingnya impian, orang-orang lain di sekitar kita juga sangat penting. Keputusan yang membuatku mengubah diriku demi orang yang kucinta adalah hal yang cukup pantas dan kharismatik untuk dilakukan" (Reply 1994) (Mungkin) aku termasuk golongan Pluviophile dimana bau tanah yang terguyur hujan membuatku mendapatkan banyak inspirasi dan meningkatkan mood ku menjadi super baik. Beberapa jam yang lalu hujan, pada saat yang sama dengan posisiku sedang melakukan open heart ketika yoga be...

Cerita Tentang Buku dan Perpustakaan

Setiap orang memiliki perpustakaan besar pada dirinya. Perpustakaan yang memiliki buku-buku karakter yang berbeda dari sampul hingga penutupnya. Begitupun aku sama. Aku berjalan terus menerus menuju perpustakaanku sendiri. Kadang menemukan jalan buntu, kadang menemukan jalan baru yang tak tau ujungnya. Begitulah ketika aku sedang bergulat dengan diriku sendiri. Aku menemukan jalan buntu pada masalahku sendiri, sedangkan jalan baru mulai terbuka hingga aku harus menemukan suatu clue untuk memecahkan masalahku sendiri. Sampai sekarang akupun tak pernah tau seberapa luas perpustakaanku ini. Aku berpikir, apakah ini memiliki luas sebesar alam semesta yang tak terhingga atau berbentuk seperti enzim yang memiliki bentuk yang fleksibel terhadap reseptornya.  Bercerita tentang luasnya perpustakaan tentunya tak boleh meninggalkan bagian inti dari tempat tersebut. Sedari kecil kita sama-sama tau bahwa perpustakaan adalah tempat untuk menyimpan dan mengoleksi buku-buku. Nah, inilah bagia...

Dear Tukang Parkir Liar

Dear tukang parkir liar... Dengan tidak mengurangi rasa hormat, aku sangat meminta maaf sekali jika akhir-akhir ini kenyataannya aku tidak begitu menyukai pekerjaanmu . Tidak, bukan pekerjaanmu , tapi sikapmu ketika sedang bekerja . Memang, aku belum bisa merasakan bagaimana menjadi kedua orang tuaku yang bekerja sangat keras, bahkan lebih keras darimu, karena pun aku hanya seorang mahasiswi yang masih meminta uang pada orang tuaku. Uangku harus kusisihkan Rp 1500 setiap kali membeli makan atau berhenti di sekitar kampus demi untuk menghidupi keluargamu. Rp 1500 itu bukan uang sukarela, karena seringnya kamu meminta paksa karena Rp 1000 itu kurang bagimu. Jika kuhitung estimasinya dalam sebulan, aku telah menghidupimu Rp 180.000 dalam sebulan jika sehari rata-rata aku memarkir motorku 4x. Aku tidak akan berpikir keras jika itu adalah uang hasil kerjaku sendiri. Tidak ada yang salah dengan pekerjaanmu itu, sungguh. Hanya saja, aku sangat tidak suka dengan sifat pungli yang membabi bu...

Jalan Sesama

"Aku tidak pernah paham, apakah terdapat garis zaman yang membedakan antara sahabat gaya modern atau gaya tradisional.." Terkadang aku berpikir bahwa kembali ke masa silam akan membuat jiwaku semakin melankolis dan mengurangi keinginan untuk selalu maju kedepan, tetapi yang aku dapatkan adalah sebaliknya. Semua orang memiliki orang-orang yang berharga dalam hidupnya dan kenangan-kenangan yang membangun impiannya. Ini tentang sahabat-sahabatku. Sebenarnya aku bingung harus memulai cerita tentang pengaruh besar mereka terhadap proses menuju puncak impianku. Tapi aku akan mencoba membawa kalian untuk mengerti bagaimana perasaanku saat ini tentang mereka. Aku bingung, mengapa mereka bisa aku klasifikasikan sebagai sahabat. Padahal banyak juga teman dan orang-orang yang ada disekitarku yang mau tertawa, sedih dan mendengarkan semua keluh kesahku. Tolong, simpan saja bayanganmu yang menilai tentang gaya hidup kami yang gaul. Karena aku kira ini sangat menyenangkan dan deskripsik...

Selingan Malam Revisi yang Menegangkan

Selamat malam... Akhirnya aku bisa memenuhi janjiku sendiri untuk menyelesaikan tanggung jawab sebagai mahasiswa farmasi. Semua hal yang berkenaan dengan jatuh, bangun, sekarat, kecewa, putus asa, bahagia akhirnya telah siap sedia untuk dipak menjadi hadiah cerita untuk anak-anakku. Aku pikir selama ini, semua hal yang aku lalui sangat menegangkan. Bisa dibayangkan, bertahan dan mencoba berdamai dengan sesuatu yang sangat dibenci. Aku sangat benci dengan kimia, tapi pada kenyatannya yang aku benci malah memberiku gelar kehormatan. Aku memulainya dengan menanam keyakinan bahwa nilai 0,5 pada pelajaran kimiaku dapat memberiku manfaat suatu hari nanti. Inilah kemerdekaanku bulan ini karena dapat berdamai dengan musuhku setelah 6 tahun yang mencoba berdamai hingga tibalah waktu sidangku untuk mendeklarasikan perdamaian kami. Mungkin jika blog dan tulisan ini masih bertahan hingga anakku bisa belajar tentang hidup, maka jadilah tulisan ini sebagai dokumentasi tentang cara ibunya m...

Remukan Peyek

Selamat bulan Juli..Taqobbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin ya :) Semoga saja ini adalah tulisanku terakhir sebagai mahasiswa strata 1 jurusan farmasi yang akhirnya segera meraih gelar sarjana farmasi dalam jangka waktu sebulan ini. Harapanku terlalu tergesa-gesa hingga kutuliskan dibagian awal paragraf, tapi tidaklah munafik jika harapan itu telah muncul sudah dari 6 tahun yang lalu saat aku mulai menempuh pendidikan sebagai mahasiswa baru. Terlalu singkat 6 tahun ini jika kuniati sebagai "jalan tempuhan untuk menuntut ilmu" sebagai tujuan mulia hidup di dunia sebagai makhluk Tuhan dan terlalu lama jika kenyataanya aku hanya memperoleh "lisensi dan sertifikasi pengalaman" saja untuk mendapat pekerjaan layak kemudian saling bersaing berebut pangkat dan martabat (harga diri) dengan manusia lainnya. Kata caknun dalam bukunya "sanggupkah anda mengalahkan obsesi kehidupan anda sendiri untuk merintis peperangan yang sedikit punya harga diri?...

Apa yang saya pikirkan tentang orang yang mengeblok akun media sosial? (It's just simple opinion)

Baiklah, akhirnya hari ini ada kesempatan untuk mengunggah tulisan. Sebenarnya bukan mengunggah tulisan-tulisan saya di buku pribadi, karena tulisan-tulisan saya di buku sangat amat lebih dari sekedar rahasia yang sebaiknya tidak dikonsumsi publik (aseeekkk!) Saya agak kaget setelah saya online lewat PC ternyata salah satu lapak bacaan saya dan pacar (dulu, sekarang BACA: mantan) telah tutup akun. Sangat disayangkan karena konten-konten tulisannya sangat menarik dan berbeda dengan konten yang lain. Jadinya, terbitlah saya menjadi pecandu media sosial karena belum ada konten bacaan onlen yang menarik hati saya. Seperti biasa, saya akan menumpahkan kegelisahan saya karena terdapat beberapa orang yang merasa terganggu "secara pribadi atau mungkin psikis" dengan konten media sosial saya, kemudian akun saya di blok begitu saja. Saya tidak begitu paham sebab orang tersebut mengeblok media sosial saya karena pada kenyataannya kami memiliki hubungan yang baik di kehidupan nyata ...

Corat-coret Awal 2017

"Mengherankan, bahwa dalam semua terbitan itu tak pernah kudapati percekcokan tentang agama. Percekcokan pokok adalah tentang makna Tanah Air dan penghidupan. Yang satu mengukuhi kemuliaan tanah air. Tanah airlah yang menyebabkan adanya bangsa untuk memiliki, memelihara, membangun dan mempertahankannya. Yang lain bilang persetan dengan Tanah air. Sekalipun kutub dingin, bila dia memberikan penghidupan, dialah Tanah air. Tanah air adalah semesta." (Pram dalam Rumah Kaca) Salam, saya mencoba menulis kegelisahan saya melalui kalimat yang mungkin tidak begitu baik. Tapi saya tetap berusaha menuangkannya semampu yang saya bisa dengan konsisten membawakan tulisan ini tetap berpacu pada sudut pandang orang pertama. Sebelumnya, saya juga akan menyatakan bahwa saya termasuk orang yang awam dan tidak begitu paham terkait filosofi suatu bangsa. Jadi, mungkin tulisan ini terkesan "agak murahan" dibanding dengan opini-opini lain. Indonesia adalah milik saya, kamu dan mereka...

Catatan 8 November

8 November 2016, Bolehkah saya rindu? Sebentar, biar saya flashback jauh-jauh sekali. Beberapa tahun sebelum adanya krisis negara 1998 atau lebih tepatnya tahun tragedi Marsinah, tahun dimana sedang gencar-gencarnya polemik cap PKI beredar dimana-mana. Setiap orang yang kontra terhadap keputusan kapital dan atau pemerintah pasti akan musnah sejasad-jasadnya. Saya terlahir dari rahim seorang ibu yang patuh mengabdi pada negara. Rahim yang kokoh dan keras. Sedangkan kakek saya adalah seorang abdi negara di rezim Soeharto. Apa yang terjadi 8 November 1993 silam? entahlah, mungkin saya sedang menendang-nendang dan mulai muak dengan rahim yang sesak. 9 bulan hidup dalam air ketuban yang hangat akhirnya keluar jiwa manusia penguasa saya yang menginginkan tempat yang lebih luas untuk bertahan hidup seperti gurun yang kusebut sebagai tanah surga yang hijau dan rindang. Entahlah, saya belum bisa membedakan keringnya gurun atau rindangnya kebun Stroberi di pegunungan. Sedangka...

Kebebasan (Freedom)

Kebebasan, lalu siapa yang akan mengandung dosa penganut paham kebebasan? Saya tertarik mengambil tema ini ke dalam blog usang saya. Karena kata bebas sangatlah lazim terdengar di telinga kita. Sebegitu lazimnya, hingga luput untuk ditelaah kembali. Beberapa waktu lalu, adik saya yang sedang duduk di bangku SMA mengajukan tuntutan berupa kebebasan bergaul kepada para tetua keluarga kami. Saya pikir, tuntutannya langsung ditolak oleh sekretaris negara, yaitu ibu saya karena notabene nya beliau adalah seorang perempuan otoriter dan disiplin. Dan ternyata benar, tuntutan itu jelas-jelas ditolak. Lalu, adik melakukan boikot. Menolak makan, minum (saya tau dia mengendap-endap saat dia lapar dan haus) dan tidak pernah mendengarkan nasehat-nasehat ibu. Padahal menilik masa SMA saya 4 tahun yang lalu, saya enggan melakukan pemberontakan apapun kepada para tetua keluarga. Hanya menurut, karena dari dulu saya terdidik dibawah aturan keluarga yang otoriter dan disiplin. Terbukti, pada m...